Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 04 Jul 2018 17:21 WIB

Bisnis Kayu Bernilai Hingga Ratusan Juta, Bagaimana Jualannya?

Selfie Miftahul Jannah - detikFinance
Foto: Rifkianto Nugroho Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Bisnis di sektor perhutanan seperti pohon sengon hingga jati memiliki potensi bisnis jangka panjang yang cukup menarik. Namun belum banyak yang berminat berbisnis di sektor ini lantaran tak punya informasi yang lengkap ke mana pohon-pohon penghasil kayu tersebut dijual bila sudah panen nanti.

Ke mana sih jual kayu-kayu bernilai tinggi itu?

Direktur Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), Purwadi Suprihanto menyebut pasar komoditas kayu sangatlah luas.


Setelah masuk masa panen, beberapa pohon akan ditebang dan akan diolah menjadi beberapa bahan dasar kebutuhan industri.

"Kan kalau kayu itu ada beberapa industri, seperti industri pengolahan untuk kebutuhan mebel, perangkat rumah, kebutuhan olahan bahan kayu seperti bahan baku veneer," kata dia kepada detikFinance, Rabu (4/7/2018).

Ia menjelaskan, kebutuhan bahan baku rumah untuk pembuatan pintu rumah, jendela sampai furnitur yang membutuhkan bahan baku kayu.

Ia mencontohkan seperti Tanaman Sengon dan Jabon, jenis tahaman ini mulai dicari orang setelah industri mulai membutuhkan sengon sebagai satu bahan baku pembuatan veneer atau triplek. Pohon ini kemudian kerap digunakan sebagai pengganti utama kayu-kayu alam seperti jati untuk diolah menjadi sebuah produk.

"Pasokan kemampuan kayu alam semakin menurun, sehingga subtitusi kayu alam banyak ke arah hutan tanaman. Kalau kayu alam kan banyak di luar Jawa ya, sekarang kayu sengon ini banyak jadi subtitusi kayu alam," jelasnya.

Selain itu, kata dia, saat ini industri kayu lapis banyak berada di daerah Jawa karena pasokan kayu alam yang menurun. Dari situ, industri-industri pengolahan kayu banyak memanfaatkan sengon sebagai bahan utama.


Meski saat ini sudah mulai banyak yang menanam beberapa tumbuhan seperti Sengon dan Jabon, Purwadi menjelaskan baiknya tumbuhan ini ditanam di kawasan krisis atau pinggiran Pulau Jawa.

Ia menjelaskan Jabon dan Sengon masih satu jenis, tumbuhan ini sudah ada dejak tahun 1990 dan dibudidayakan untuk mengatasi permasalahan lahan kritis di pinggiran Jawa dan luar Pulau Jawa. Baru pada tahun 2005 jenis tanaman ini mulai dicari orang setelah industri muai membutuhkan sengon untuk salah satu bahan baku pembuatan veneer atau triplek.

"Karena sudah tau nilainya, mungkin banyak masyarakat yang mulai menanam, tapi tanahnya jangan yang gembut atau untuk pangan. baiknya di tempat yang kritis karena tanaman ini akan cocok jika ditanam di iklim yang cukup keras," kata dia. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed