Follow detikFinance
Jumat, 20 Jul 2018 14:18 WIB

Harga Rokok Dinilai Kemurahan, Ini Kata Bea Cukai

Dana Aditiasari - detikFinance
Foto: Rangga Rahardiansyah Foto: Rangga Rahardiansyah
Jakarta - Harga rokok saat ini dinilai terlalu murah. Faktor tersebut dianggap membuat banyak masyarakat miskin mengkonsumsi rokok. Padahal data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan rokok sebagai salah satu penyumbang terbesar terhadap angka kemiskinan.

Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan memandang harga rokok di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia.

Faktor daya beli masyarakat dalam lima tahun terakhir ini menjadi acuannya.

"Kalau secara nominal absolut memang benar (lebih murah). Tapi kalau mempertimbangkan daya beli, rokok di Indonesia sudah mahal," kata Kepala Sub Direktorat Komunikasi dan Publikasi Ditjen Bea Cukai Deni Surjantoro beberapa waktu lalu.


Deni menjelaskan pemerintah tidak akan gegabah menaikkan harga rokok. Dampak negatifnya akan berimbas terhadap kelangsungan industri.

"Jika lebih dari titik kulminasinya, kenaikan seberapa pun justru menurunkan. Kami selalu berhati-hati agar kebijakan tetap optimum," tutur dia.

Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis Yustinus Prastowo menambahkan harga rokok di Indonesia memang sangat tinggi.

Bahkan, dia meneruskan, lebih tinggi dari negara-negara seperti Jepang, Korea, Tiongkok, Hong Kong, Australia, Singapura, Malaysia, Myanmar, dan Vietnam.

Penilaian tersebut berdasarkan indeks keterjangkauan yang diukur melalui rasio Price Relative to Income (PRI) yakni rasio yang memperhitungkan faktor daya beli ke dalam analisa keterjangkauan harga.

"Kalau dibandingkan dengan harga dan hitung daya beli, harga rokok Indonesia relatif mahal dibandingkan negara-negara lainnya," ucap Yustinus.

Sependapat dengan Deni, menurut Yustinus, industri rokok nasional akan terpuruk jika harganya dinaikkan.

"Industri Hasil Tembakau saat ini sudah memasuki sunset industry. Ini akan berdampak dari hulu ke hilir, mulai dari petani, buruh, sampai pengasong. Ini harus dipikirkan," ucap dia.


Direktur Jenderal Bea Cukai, Heru Pambudi, sebelumya menyatakan harga jual sebatang rokok di Indonesia merupakan yang tertinggi setelah dibandingkan dengan pendapatan per kapita per hari masyarakat.

"Secara nominal harga rokok di Indonesia memang relatif lebih rendah daripada Singapura atau negara maju lain. Tapi kalau kita bandingkan secara relatif terhadap pendapatan per kapita per hari, sebenarnya harga jual satu batang rokok kita termasuk yang tertinggi," ucapnya. (dna/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed