Dari awal tahun neraca transaksi Indonesia terus mengalami defisit. Rupiah pun tak bisa menahan penguatan dolar AS yang sempat menyentuh level Rp 14.600.
Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede hal mendasar yang membuat permasalahan ini terus berlangsung lantaran pondasi era industrialisasi yang tidak kuat. Banyak dari sektor industrialisasi yang belum terbentuk hilirisasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Josua juga memandang Indonesia tengah mengalami prematur industrialisasi. Ketika sektor industri belum begitu berkembang, ekonomi Indonesia sudah masuk ke sektor jasa.
Hal itu terlihat dari banyaknya perusahaan teknologi yang muncul di Indonesia. Bagi investor sektor jasa jauh lebih aman dibanding sektor industri yang memerlukan banyak biaya.
"Industri belum mature tapi kita sudah shift ke jasa. Ini karena selama ini sektor labor cost mahal, oleh karena itu banyak investasi ke sektor tersier atau jasa. Bagi investor mereka hanya tanam uang ambil keuntungan, kalau industri biayanya besar, labor cots, belum lagi banyaknya perizinan," tambahnya.
Sebagai negara berkembang seharusnya Indonesia terlebih dahulu fokus untuk mengembangkan industrialisasi sebelum masuk ke sektor jasa setelah sudah masuk ke level negara maju.
"Kalau terlalu cepat ke sektor jasa, ya impor terus besar. Negara manapun kalau sudah naik jadi negara maju pasti sektor jasa. Target kita jadi negara maju itu pendapatan perkapita kita US$ 12 ribu per kapita per tahun, sekarang masih sekitar US$ 3 ribuan. Ya mau enggak mau dorong dulu manufakturnya," terangnya.
Sementara untuk saat ini pemerintah lebih memilih untuk menyetop impor dari 500 komoditas. Harapannya agar bisa lebih cepat memperbaiki neraca dagang RI.











































