Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 24 Agu 2018 17:19 WIB

Ini PR Agar RI Tak Terjebak Krisis Seperti Venezuela

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Zaki Alfarabi/Tim Infografis Foto: Zaki Alfarabi/Tim Infografis
Jakarta - Negara surga minyak Venezuela tengah diterpa krisis. Negara tersebut kini mengalami inflasi parah atau hiperinflasi. Lantas, bagaimana dengan Indonesia?

Ekonom Intitute for Devolopment of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, kondisi Venezuela memang sangat parah lantaran inflasinya mencapai ribuan persen. Kemudian hal itu diperburuk dengan kebijakan pemerintahnya yang terus-menerus mencetak uang baru. Hal itu membuat inflasi kian parah.

"Venezuela inflasi ribuan persen, terus mata uangnya cetak uang baru, kelimpungan sudah lama," kata dia kepada detikFinance di Jakarta, Jumat (24/8/2018).

Kemudian, dia mengatakan, kondisi Venezuela tak didukung oleh kemandirian ekonomi. Dia bilang, banyak barang yang tidak bisa diproduksi dalam negeri. Sehingga, permintaan yang tak sebanding dengan ketersediaan barang turut memicu inflasi.

"Venezuela saja tisu toilet nggak bisa produksi," ungkapnya.



Kondisi ini jauh berbeda dengan Indonesia. Menurut Eko, inflasi Indonesia masih terbilang rendah.

"Indonesia nggak separah itu, memang (rupiah) depresiasi, tapi bisa terkendali. Agak jauh membayangkan Indonesia dengan Venezuela," ujarnya.

Namun, Eko mengatakan, bukan berarti Indonesia tak punya pekerjaan rumah. Menurutnya, salah satu pekerjaan yang mesti dilakukan memperbaiki defisit neraca transaksi berjalan yang saat ini melebar.

Dia bilang, melebarnya defisit transaksi berjalan menunjukkan kebutuhan impor masih besar dan menekan nilai tukar rupiah. Sementara, nilai tukar yang terjaga membantu menjaga inflasi.

"Berupaya sependapat mungkin mencegah defisit melebar lagi, cukup 3%, kalau bisa akhir tahun ditarik 2,7%," tutupnya.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com