Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 26 Agu 2018 18:45 WIB

Mengenal Lebih Dekat Seluk Beluk Action Figure dan Pencintanya

Fadhly Fauzi Rachman, Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: Komunitas Kolektor Action Figure/Angga Aliya Firdaus Foto: Komunitas Kolektor Action Figure/Angga Aliya Firdaus
Jakarta - Siapa yang tak tahu action figure? sebuah miniatur karakter baik anime atau superhero dengan beragam pose yang terbuat dari plastik atau material lainnya. Karakter-karakter yang diambil biasanya dari tokoh-tokoh film, komik, video game, dan sebagainya.

Istilah action figure sendiri kali pertama dipopulerkan oleh produsen mainan Hasbro asal Amerika Serikat. Hasbro merupakan produsen mainan pemegang merk untuk sejumlah produk ternama, contohnya seperti karakter GI Joe dan Transformers.

Ketika ingin memasarkan mainan GI Joe pada 1964, Hasbro mengeluarkan istilah action figure untuk menyasar anak laki-laki. Hal ini karena istilah boneka dirasa kurang pas untuk anak laki-laki, kurang keren. Apalagi GI Joe adalah sebuah karakter berbau militer, sehingga action figure merupakan sebutan yang lebih cocok.

Era 1980-an mungkin pantas disebut masa keemasan action figure. Bahkan ketika itu sejumlah seri animasi sengaja dibuat untuk kepentingan penjualan action figure, seperti Inhumanoid atau The Centurions. Sejumlah film kartun seperti Teenage Mutant Ninja Turtles, He-Man and The Masters of the Universe, Thundercats, atau The Real Ghostbusters pun ikut mendongkrak kepopuleran action figure.

Pada dekade 1990-an, para kolektor action figure mulai tidak malu-malu lagi. Mereka bahkan membentuk komunitas sendiri, yang anggotanya kebanyakan orang dewasa. Action figure bukan lagi sekedar mainan, tetapi menjadi barang koleksi yang bernilai tinggi. Kegiatan mengkoleksi action figure ini pun merambah ke Indonesia.

Di awal hadirnya internet di Indonesia, atau sekitar 2000-an awal, para kolektor action figure mulai banyak berkumpul di sebuah forum semacam Kaskus serta layanan chatting mIRC. Saat itu, komunitas untuk para pecinta action figure mulai muncul dengan nama NeoKg. Komunitas itu menjadi suatu wadah komunikasi bagi sesama pecinta action figure secara umum.


Seiring pesatnya perkembangan digital, beragam sosial media juga mulai hadir seperti Facebook. Dari situ, berbagai komunitas action figure juga mulai bermunculan. Komunitas-komunitas yang muncul ini bisa dibilang lebih terklasifikasi. Contohnya seperti Komunitas Marvel Legends & Marvel Select Indonesia yang hadir pada 2012 di Facebook.

Salah seorang admin grup tersebut, Yosi Kurnia Wijaya mengatakan komunitas itu lebih condong bagi para pecinta action figure karakter Marvel Legends & Marvel Select Indonesia. Marvel Legends merupakan action figure yang diproduksi oleh Hasbro, sementara Marvel Select diproduksi oleh Diamond Select.

"Di situ isinya lebih spesifik, hanya figure Marvel Legends dan Marvel Select," kata Yosi kepada detikFinance pekan lalu.

Selain soal produsen, perbedaan dari kedua merk itu ialah soal ukuran, Marvel Legends merupakan mainan action figure dengan skala ukuran 6 inci, sementara Marvel Select skalanya lebih besar, yakni 7 inci. Ukuran dalam sebuah action figure merupakan hal penting. Kenapa? jawabannya untuk modifikasi setiap karakter action figure.

Karena figure itu ukurannya mirip, cuma berbeda satu inci, jadi para kolektor bisa melakukan mix and match untuk setiap koleksinya. Misalnya, kalau figure normal biasanya yang dipakai adalah Marvel Legends, tapi ketika butuh karakter monster, biasanya Marvel Select lebih dipilih karena ukurannya yang lebih besar. Setiap aksesoris dari action figure juga bisa ditukar-tukar agar lebih menarik.

Mengenal Lebih Dekat Seluk Beluk Action Figure dan PencintanyaFoto: Komunitas Kolektor Action Figure/Angga Aliya Firdaus


Kembali bicara soal komunitas, Yosi mengatakan, komunitas Marvel Legends & Marvel Select Indonesia merupakan komunitas action figure base yang tematik terbesar di Indonesia. Di Facebook, komunitas tersebut sudah memiliki 10.000 lebih member dari berbagai wilayah Indonesia.

Komunitas tersebut tak hanya sebagai wadah sharing sesama anggotanya, namun juga kegiatan jual beli,toys photography atau fotografi mainan, jasa untuk memperbaiki action figure yang rusak, hingga custom action figure untuk mempermak setiap karakter yang dinilai kurang sesuai. Mereka tak hanya aktif di media sosial, tapi juga kerap mengadakan gathering atau kumpul-kumpul anggota komunitas.

Sejatinya, Yosi mengatakan komunitas action figure tersebut lebih beranggotakan orang dewasa. Sebab, walaupun action figure sejatinya merupakan mainan namun orang dewasa juga cukup antusias untuk mengoleksi figure-figure Marvels tersebut. Karena, biasanya figure-figure ini memiliki nilai jual yang cukup tinggi dan terus mengalami kenaikan.

Itu artinya, selain sebagai barang koleksi, namun action figure juga bisa dijadikan investasi yang cukup menarik. Hal itulah yang menjadi keuntungan lebih untuk mengkoleksi action figure. Rata-rata para kolektor bisa menjual action figure koleksinya, dengan harga minimal seperti yang dibelinya dulu. Dengan begitu, tidak ada kerugian saat menjual action figure.

"Bahkan kadang ada yang kenaikan harganya lebih dari emas. Misalnya kita beli sekarang, tiba-tiba demand dari pasar gede, kemudian harganya melonjak, jadi gila harganya langsung. Ada figur kecil, harganya Rp 2,3 juta karena nggak ada stocknya di pasar. Padahal dulu saat pertama kali rilis cuma Rp 300 ribu," kata Yosi sambil menunjukkan salah satu action figure berukuran 6 inci di depannya.

Apalagi, saat ini demand atau permintaan action figure di Indonesia cukup besar. Salah satunya pendorongnya ialah adanya perkembangan digital seperti media sosial yang tadi disebutkan, mulai dari Faceebok hingga Instagram. Kemudian pasar action figure terus mengalami perkembangan mulai tahun 2014 dengan ramainya toys fotografi.

"Jadi semenjak ada Instagram itu kalau menurut saya langsung meroket itu. Demandnya besar banget sekarang," jelasnya.

Karena perkembangannya yang cukup pesat, tak jarang ada beberapa orang yang memanfaatkan action figure sebagai penghasilan utama. Dari action figure, pundi-pundi rupiah bisa mengalir cukup dalam ke kantong pribadi. Contohnya seperti yang dilakukan oleh Bina Azhar Lufian dan rekannya Adi Batara yang mengandalkan action figure sebagai penghasilan utama.

Keduanya bahkan memiliki bengkel sendiri khusus action figure. Namun yang ditawarkan mereka bukan sekadar jual beli action figure, melainkan jasa custom action figure bagi para kolektor. Mereka bisa memoles setiap karakter action figure sesuai dengan keinginan setiap orang. Mereka berdua bisa dibilang sebagai orang yang hidup dari action figure.

Selain mereka berdua, ada juga anggota komunitas lain, Ardi Prasetyo, yang khusus membuat diorama action figure. Dengan tangan kreatifnya, Ardi bisa membuat miniatur tiga dimensi untuk menggambarkan suatu pemandangan atau suatu adegan. Biasanya dioarama yang dibuat ialah miniatur medan pertempuran untuk setiap karakter action figure.

Berbeda dengan, Bina dan Adi, Ardi tak sepenuhnya menggantungkan hidup dari action figure. Bisnisnya dalam membuat diorama tersebut hanya sebagai tambahan penghasilan. Karena di luar itu ia juga memiliki pekerjaan tetap yang lainnya. Namun tetap saja, action figure juga menjadi salah satu sumber rezeki baginya.

Walau demikian, baik Bina, Adi, maupun Ardi mengatakan action figure tak hanya sebatas mainan koleksi, namun juga suatu penghasilan. Bahkan action figure dalam komunitas bisa dibilang menjadi sebuah kampus bagi para kolektor. Di mana, masing-masing kolektor memiliki jalurnya sendiri dalam mengkoleksi atau bahkan menjadikan bisnis action figure tergantung passionnya.

Mereka pun sepakat bahwa ke depannya bisnis action figure akan terus mengalami perkembangan. Apalagi, sekarang ini film-film Marvel sudah banyak beredar di layar bioskop Indonesia. Film-film tersebut bisa menjadi daya tarik orang-orang terhadap karakter superhero, khususnya marvel dalam bentuk action figure. Mereka percaya bahwa bisnis action figure masih cukup menjanjikan untuk ke depannya.

"Jadi ini memang sudah bisa jadi penghasilan tetap bagi kami. Kita benar-benar full hidup dari sini," kata Bina.


Saksikan juga video 'Toyz Corner ICC 2016, Surganya Kolektor Action Figure':

[Gambas:Video 20detik]

Mengenal Lebih Dekat Seluk Beluk Action Figure dan Pencintanya
(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com