Follow detikFinance
Rabu, 26 Sep 2018 17:20 WIB

Aturan Tarif Tol Naik saat Macet akan Diterapkan di RI

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Agung Pambudhy Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Lalu lintas Ibu Kota dan sekitarnya semakin memprihatinkan. Setiap harinya kemacetan baik di jalan tol maupun non tol terasa semakin parah.

Untuk mengatasi hal itu, pemerintah menyiapkan beberapa strategi, salah satunya dengan memberlakukan tarif progresif di jalan tol. Wacana ini tengah digodok oleh pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya.

"Ide congention pricing yang disampaikan pengusaha truk, ada macam. Pertama kalau tol macet, pintu tol bisa ditutup nggak bisa masuk (ramp metering). Kemudian kedua, semakin macet, tarif tol dinaikkan (dinamic pricing). Jadi tarif progresif, makin macet makin naik. Saat sepi turun lagi," kata Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono di Gedung Kemkominfo, Jakarta, Rabu (26/9/2018).

Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian PUPR Herry Trisaputra Zuna menambahkan, kemacetan di dalam tol memang sulit untuk diurai. Mekanisme tarif progresif dipercaya menjadi salah obat untuk mengurai kemacetan nantinya.

"Kalau yang di tol ke depan harus dibatasi karena jalan tol sama seperti kereta api kalau kursinya penuh maksa naik kereta nggak? Tidak kan, menunggu kereta selanjutnya. Di tol juga sama kalau kapasitasnya sudah penuh harusnya ditutup tapi butuh proses," tambahnya.



Namun untuk menerapkan wacana ini, pemerintah masih akan melakukan kajian terlebih dahulu. Tujuannya untuk melihat kemampuan bayar para pengguna. Jika kebijakan ini ketika diterapkan bisa mendorong orang berpindah menggunakan transportasi umum maka kebijakan ini akan dilakukan.

"Kalau terlalu murah tidak ada yang mau berpindah nanti. Belum sampai ke tarif kajiannya, tapi itu perlu," tuturnya.

Sementara untuk jalan non tol di Ibu Kota akan diterapkan Electronic Road Pricing (ERP). Penerarapan ERP akan dilakukan setelah masa kebijakan ganjil genap selesai diterapkan.

"Jadi nanti berbarengan. Yang non tolnya ERP, yang tolnya dengan dynamic pricing. Berbarengan," tambah Bambang.

(das/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed