Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 05 Okt 2018 23:08 WIB

Usai Bertemu Prabowo, Rizal Ramli Sebut Ekonomi RI Lampu Merah

Gibran Maulana Ibrahim - detikFinance
Foto: Gibran/ detikcom Foto: Gibran/ detikcom
Jakarta - Calon Presiden (Capres) Prabowo Subianto mengumpulkan sejumlah ekonom. Pertemuan itu berlangsung di kediaman Prabowo Jalan Kertanegara, Jakarta Selatan, Jumat malam (5/10/2018).

Salah satu yang hadir dalam pertemuan itu adalah Rizal Ramli. Menurut Rizal kondisi ekonomi Indonesia saat ini lampu merah dan masih akan berlanjut.

"Memang hari ini kita lampu merah ekonominya, krisisnya, dan masih akan berlanjut karena badan kita tidak sehat. Antibodi kita kurang kuat, kena virus apa saja bisa sakit," ujar Rizal usai pertemuan.


"Tapi tidak fair kalau menyalahkan semua ke faktor-faktor internasional, Italia, Turki, US Fed (The Federal Reserve-Bank Sentral Amerika Serikat). Kita juga harus introspeksi bahwa diri kita sendiri harus kita bikin sehat. Kita harus ambil langkah-langkah agar krisis ini berkurang," sambung Rizal.

Rizal mengatakan ada acara untuk memulihkan ekonomi Indonesia. Cara pertama, kurangi defisit current account dan impor, tapi jangan fokus yang kecii-kecil yaitu pada 1.147 komoditas, antara lain bedak lipstik, dan lain-lain yang total impornya hanya US$ 5 miliar/tahun.


Selain itu, kalau pajaknya dinaikkan 2,5%-7,5% dampaknya hanya akan mengurangi impor US$ 500 juta. Ada memang pembatalan-pembatalan proyek besar, tapi kata Rizal itu saja tidak cukup.

Dia menyarankan pemerintah fokus mengurangi impor komoditas besar, contohnya baja.

"China baja kebanyakan dan banyak dijual ke Indonesia dengan harga murah. Kami minta pemerintah laksanakan memberikan tarif anti dumping sebesar 25% terhadap produk baja dan turunannya. Otomatis impor baja akan turun, impor kita akan turun US$ 5 miliar. Produksi dalam negeri naik, Krakatau Steel dan swasta akan untung," papar Rizal.


Kemudian, menurut Rizal, pemerintah perlu menaikkan tarif pajak untuk mobil impor. Cara kedua, mewajibkan, tidak hanya mengajak sukarela, para pengusaha membawa pulang devisa hasil ekspor.

"Hari ini yang masuk hanya 20%, sisanya ditaruh di Singapura, Hong Kong. Kita wajibkan supaya semua eksportir masuk ke dalam. Saya tahu pemerintah mengajak beberapa pengusaha untuk memakai rupiah, tapi itu tidak memadai, kita harus ada di depan kurva untuk bisa keluar dari krisis ini," tutur Rizal (hns/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed