Follow detikFinance
Sabtu, 06 Okt 2018 22:22 WIB

Prabowo dan Rizal Ramli Kritik Ekonomi RI, KSP: Kondisi RI Baik

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Istana Merdeka, Jakarta (Danu Damarjati/detikcom) Foto: Istana Merdeka, Jakarta (Danu Damarjati/detikcom)
Jakarta - Calon Presiden Prabowo Subianto mengatakan kondisi ekonomi Indonesia saat ini dalam kondisi sangat serius. Selain itu, Prabowo mengatakan Indonesia menurut penilaian sejumlah lembaga internasional masuk dalam deretan negara berkembang yang rawan prospeknya ke depan.

Pernyataan ini disampaikan Prabowo usai pertemuan dengan beberapa ekonom pada Jumat malam (5/10/2018). Senada, Rizal Ramli yang juga hadir dalam pertemuan itu juga menyebut kondisi ekonomi Indonesia lampu merah.


Merespons penilaian itu, Kantor Staf Presiden (KSP) buka suara. Deputi III KSP bidang Kajian dan Pengelolaan Isu-isu Ekonomi Strategis Denni Puspa Purbasari mengatakan ekonomi Indonesia masih dalam tren positif dan pemerintah tak panik.

"Kita tidak panik, namun tidak pula complacent (puas). Reformasi struktural terus dilakukan. Koordinasi dengan BI dan OJK terus diperkuat," kata Denni kepada detikFinance, Jakarta, Sabtu (6/10/2018).


Dia menjelaskan nila tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memang sedang melemah, namun kondisi itu juga dialami negara-negara berkembang lainnya

"Menilai kondisi ekonomi tidak bisa hanya dari kurs. Tidak bisa hanya melihat Indonesia saja. Namun juga harus global dan peers," kata Denni

Selain itu melemahnya rupiah terhadap dolar AS juga karena mata uang negeri Paman Sam itu sudah mendominasi dalam sistem perdagangan internasional.
Dolar AS, kata Denni, adalah alat pembayaran dan satuan hitung yang sering dipakai dalam transaksi internasional maupun ketika membandingkan satu negara dengan lainnya

Dia menambahkan, menilai ekonomi juga harus melihat perkembangannya, mulai dari faktor apa saja yang mempengaruhi.


"Pergerakan variabel ekonomi hari ini seringkali itu harus dilihat bukan karena faktor-faktor hari ini saja, namun apa yang membentuknya selama bertahun-tahun silam dan juga tren atau kecenderungan ke depan yang membentuk ekspektasi dan perilaku ekonomi hari ini," Jelas Denni.

Layak investasi

Baiknya ekonomi nasional juga bisa dilihat dari penilaian lembaga pemeringkat yang belum mengubah Indonesia sebagai negara layak investasi.

"Rating surat utang itu bisa membantu untuk dijadikan penilaian karena mereka mengukurnya dengan 5 indikator yaitu kualitas institusi pengambil kebijakan ekonomi, makro, eksternal, fiskal dan moneter," kata Denni


"Kalau mereka ratingnya tidak berubah atau memburuk, ya kondisi Indonesia berarti baik," tambah dia.

Indonesia juga masih menduduki peringkat 72 untuk urusan kemudahan berusaha (EoDB). Hal itu menjadikan Indonesia sebagai negara yang menarik untuk investasi.

"Selain itu ranking-ranking lembaga internasional juga membantu seperti EoDB, HDI, Logistic Performance Index," ungkap dia. (hek/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed