Kopi dari Perkebunan BUMN Ini Laris Manis di Pertemuan IMF-WB 2018

Muhammad Idris - detikFinance
Selasa, 09 Okt 2018 19:01 WIB
Foto: Dok BNI
Nusa Dua - Jika ditanya produk lokal apa yang paling laris di gelaran Pertemuan Tahunan IMF-Bank Dunia 2018, barangkali kopi lokal salah satu di antaranya. Kopi dari beberapa daerah di Indonesia cukup digemari peserta maupun delegasi di pertemuan yang berlangsung di Nusa Dua Bali itu.

Di Indonesia Pavilion yang lokasinya berada dalam satu kawasan di Nusa Dua, ada Kopi Rolas yang merupakan produk kopi yang ditanam di Pulau Jawa oleh anggota holding BUMN Perkebunan, PT Perkebunan Nusantara XII.

"Kopi lokal ini berasal dari perkebunan-perkebunan kami di wilayah Jawa Timur yang merupakan specialty coffee (kopi premium) seperti Jampit, Ijen. Selama ini produk kopi premium kita kebanyakan di ekspor, sampai sekarang masih sekitar 80% kopi dari perkebunan di PTPN XII untuk pasar ekspor. Nah untuk pasar lokal ini, kita branding lewat Rolas," jelas Direktur PT Rolas Nusantara Mandiri, Permadi Prasetya, ditemui di Indonesia Pavilion, Selasa (9/10/2018).


Menurut Permadi, dengan meningkatnya tren minum kopi di kalangan usia muda, anak usaha dari PTPN XII ini tengah menggeber menggarap penjualan kopi untuk pasar dalam negeri. Dari 4 perkebunan kopi di Jawa Timur, total produksi kopi BUMN perkebunan ini mencapai 3.000 ton, baik jenis arabica maupun robusta.

"Sekarang minum kopi jadi tren gaya hidup. Rasa penasaran pada specialty coffee semakin meningkat. Untuk di dalam negeri kita kenalkan brand Rolas yang sebenarnya artinya dua belas, sesuai dengan nama PTPN XII. Kita ingin orang Indonesia bisa menikmati kopi yang benar-benar rasa kopi yang memang berkualitas," kata dia.

Lanjut dia, antusiasme pada kopi lokal dari perkebunan BUMN ini cukup tinggi di Annual Meeting IMF-World Bank 2018, baik peserta dari Indonesia maupun delegasi asing. Kopi premium dijual dari harga Rp 35.000 hingga Rp 75.000 sesuai dengan varian kopi dan ukuran cup.

"Per jam ini (18.00 WITA) sudah terjual 170 cup dengan esimasi total (omzet) Rp 7 juta. Sementara kemarin saat Indonesia Pavilion belum dibuka, kita bisa jual sekitar 130 cup dengan nilai Rp 6,6 juta. Apalagi ada promo dari BNI jika membeli kopi dengan pembayaran lewat yap!," tuturnya.


Dikatakan Permadi, kopi lokal semakin lama makin banyak peminat di Indonesia, khususnya kalangan muda. Selain itu, kopi lokal dari Jawa Timur ini juga cukup digemari para delegasi asing di pertemuan tahunan tersebut.

"Rasa specialty coffee itu kan khas. Sudah enak diminum meski tanpa gula, ada karakter rasa fruity yang spesifik sesuai dengan daerah asal kopi. Seperti karakter rasa coklat, rasa jahe, atau rasa kopi yang seperti anggur. Apalagi bagi penikmat kopi, pasti lebih paham," tutup Permadi.

Baca juga informasi Indonesia Pavilion IMF-WBG selengkapnya di sini. (ega/hns)