Follow detikFinance
Jumat, 02 Nov 2018 17:26 WIB

Pantau Flu Burung Lewat Online, Kementan Diapresiasi FAO

Robi Setiawan - detikFinance
Foto: Dok. Kementan Foto: Dok. Kementan
Jakarta - Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) mengapresiasi Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Kementan), karena telah berhasil mengembangkan suatu jejaring inovasi dalam upaya pengendalian dan penanggulangan penyakit avian influenza (AI), atau biasa disebut flu burung.

Jejaring tersebut adalah Influenza Virus Monitoring (IVM) Online, yang merupakan sebuah sistem untuk memonitor sifat antigenik dan genetik dari virus AI, khususnya Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) pada unggas di Indonesia.

Kepala Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Ditjen PKH Kementan Boethdy Angkasa menyampaikan, pengguna IVM online akan dengan mudah mengetahui posisi virus AI yang bersirkulasi di Indonesia, kemudian melaporkannya dengan cepat dan tepat kepada para pengambil kebijakan.

Dengan demikian menurutnya perkembangan jenis virus HPAI di seluruh penjuru Indonesia dapat dimonitor, sehingga dapat membantu menentukan strategi pengendalian dan pemberantasan AI yang cepat dan akurat.

Menurutnya, pelaksanaan program IVM Online merupakan langkah strategis untuk dapat secara mudah dan cepat memantau perkembangan sirkulasi virus AI serta mendeteksi varian-varian virus baru.

"Ini tentunya akan membantu kita untuk menetapkan tindakan pengendalian selanjutnya seperti penentuan jenis vaksin yang baru dan antigen untuk diagnosa," kata Boethdy dalam keterangan tertulis, Jumat (2/11/2018).


Lebih lanjut Boethdy menambahkan, melalui penerapan IVM Online maka apabila terjadi mutasi virus AI bisa cepat terdeteksi, sehingga dapat dilakukan upaya segera menghasilkan vaksin yang sesuai untuk pencegahan penyebaran penyakit.

Dirinya pun mengungkapkan bahwa cara kerja IVM online ini telah terintegrasi dengan sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional (iSIKHNAS) untuk data awal dan isolate.

"IVM Online telah didukung oleh sekitar 40 tenaga ahli anggota IVM Online yang secara rutin bertemu, bertukar informasi dan menerima pelatihan," ujarnya.

Saat ini anggota IVM Online meliputi delapan laboratorium diagnostik (Balai Besar Veteriner [BBVET] dan Balai Veteriner [BVET]), Balai Besar Pengujian Mutu dan Sertifikasi Obat Hewan (BBPMSOH), Pusvetma, Balai Besar Penelitian Veteriner (BBLITVET), dan Perguruan Tinggi (Fakultas Kedokteran Hewan-UNAIR).

BBVET Wates sebagai focal point pengendali kegiatan IVM Online juga ditunjuk sebagai Laboratorium Veteriner rujukan Nasional untuk AI di Indonesia.

Sementara itu Permanent Representative of Nigeria untuk United Nations Roma, Yaya Adisa Olaitan Olaniran bersama 9 delegasi FAO lainnya saat melakukan kunjungan ke BBVET Wates Yogyakarta menyampaikan pujianan atas IVM Online. Sejak peluncurannya pada 2014 telah memberikan dampak yang signifikan dalam upaya pengendalian dan penanggulan penyakit AI.

"Contoh jejaring dari IVM Indonesia ini memiliki relevansi dengan negara-negara lain yang ingin membangun jaringan laboratorium untuk surveilans molekuler AI dan penyakit menular (patogen) lainnya," kata Yaya.

Kunjungan tersebut dilakukan ke sejumlah kota di Indonesia untuk melihat perkembangan proyek pertanian hasil kerja sama FAO dengan Indonesia. Yang mana program IVM online merupakan kerja sama pemerintah Indonesia dengan FAO-OFFLU, dalam meningkatkan sistem monitoring perubahan (evolusi) virus dan deteksi dini virus AI varian baru di Indonesia.

"Ini sesuai dengan kerangka kerja strategis FAO-Regional untuk peningkatan kapasitas laboratorium," tambahnya.

Dalam kegiatan ini Indonesia mendapat dukungan laboratorium referensi OIE seperti Australian Animal Health Laboratory (AAHL).


Pada kunjungan tersebut Kepala Balai Besar Veteriner Wates Bagoes Poermadjaja menyampaikan, laboratorium yang dipimpinnya telah menjadi laboratorium rujukan nasional untuk penyakit AI, antrax, penyakit pada ternak yang disebabkan oleh bakteri salmonela (Salmonellosis), dan Penyakit Sapi Gila (BSE).

Dirinya juga menjelaskan BBVET Wates yang merupakan Unit Pelaksana Teknis di bawah Ditjen PKH ini juga telah terakreditasi ISO 17025 tahun 2004 dan ISO 9001 tahun 2010, dengan wilayah kerjanya meliputi 3 provinsi yakni Jawa Timur, Jawa Tengah, dan DIY Yogyakarta.

"Kami selalu berusaha memberikan pelayanan terbaik, melalui penyidikan dan pengujian veteriner, serta pengembangan teknik berbasis laboratorium yang terakreditasi, sehingga mendukung upaya pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan di Indonesia," kata Bagoes.

Menurutnya saat ini Indonesia juga sedang mengajukan kepada OIE untuk menjadi laboratorium veteriner rujukan Regional Asia Pasific untuk pengujian virus AI.

"Untuk meningkatkan kapasitas laboratorium BBVET Wates, kami juga melakukan kerja sama dengan Australian Animal Health Laboratory (AAHL) dalam program kerja sama antardua laboratorium (OIE Laboratory Twinning Program)," pungkasnya. (idr/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed