Follow detikFinance
Jumat, 09 Nov 2018 15:47 WIB

Sri Mulyani Cerita Pengaruh Ekonomi Dunia dan Dampaknya ke RI

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Hendra Kusuma/detikFinance Foto: Hendra Kusuma/detikFinance
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menceritakan pentingnya stabilitas ekonomi dalam perekonomian nasional. Dengan ekonomi yang stabil, pengangguran dan kemiskinan bisa menurun.

Hal itu diungkapkannya pada saat acara Indonesian Women's Forum 2018 dengan tema Bringing the Best of Indonesia Women di Raffles Hotel, Jakarta Selatan, Jumat (9/11/2018).

Di hadapan peserta yang didominasi perempuan ini, Sri Mulyani ekonomi Indonesia yang terkoneksi global memberikan banyak ancaman. Makanya, ekonomi nasional harus dijaga tetap stabil.

"Dalam ekonomi kita yang open, kita part of global selalu ada suatu pengaruh dalam negeri dinamika," kata Sri Mulyani.


Dinamika yang mengancam stabilitas perekonomian nasional adalah situasi politik di negara maju, hingga kebijakan-kebijakannya yang berdampak pada perdagangan internasional.

Dari situ, timbul spekulasi yang membuat mata uang di negara berkembang fluktuatif, hingga adanya arus modal asing yang keluar (capital outflow).

"Gerakan pertama yang dilakukan untuk maju itu stabilitas, nggak bisa progress kalau nggak stabil, makro ekonomi stabilitas itu penting, ada growth, inflasi, progres di kesempatan kerja," jelas dia.

Indonesia, kata Sri Mulyani masih memiliki pertumbuhan ekonomi di level 5% dengan tingkat inflasi di level yang rendah. Padahal, belakangan ini kondisi global masih belum kondusif.


Perang dagang antara AS dengan China masih berlangsung, The Fed masih akan menaikkan suku bunga acuannya. Namun, ekonomi Indonesia pun tetap tumbuh dan berkembang berkat stabilitas yang terjaga.

"Sekarang ekonomi Indonesia sudah Rp 16.000 triliun, pasti ada lapangan kerja yang di-create, sehingga pengangguran itu menurun," kata dia.

Bahkan rendahnya pengangguran pun berdampak baik pada tingkat kemiskinan nasional. Saat ini, tingkat kemiskinan tanah air sudah di bawah 10% atau single digit.

"Ini pertama kalinya dalam history Indonesia di bawah itu, itu hasil dari effort bersama (jaga stabilitas)," jelas dia. (hek/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed