Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 15 Nov 2018 23:02 WIB

Neraca Dagang Tekor Lagi, Darmin: Migas 3 Kuartal Impornya Besar

Trio Hamdani - detikFinance
Menko Perekonomian Darmin Nasution/Foto: Wahyu Daniel Menko Perekonomian Darmin Nasution/Foto: Wahyu Daniel
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan kembali mengalami defisit US$ 1,82 miliar di Oktober 2018. Salah satu penyebabnya karena impor minyak dan gas (migas) masih tinggi.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan, migas menyumbang cukup besar terhadap defisit neraca perdagangan lantaran harga minyak yang tinggi, walaupun belakangan mulai turun.

"Memang itu migas kita itu kan agak luas itu ya dan memang itu termasuk karena harga meningkat walaupun hari hari ini dia mulai turun harganya. Sehingga memang migas selama tiga kuartal impornya itu besar" kata Darmin ditemui di kantornya, Jakarta, Kamis (15/11/2018).


Darmin tak sepenuhnya menilai defisit neraca perdagangan lantaran impor migas tinggi, karena menurutnya impor bahan baku dan barang konsumsi juga masih tinggi.

"Ya memang artinya karena memang pertumbuhannya juga relatif masih baik, impornya jalan terus. Kalau kamu lihat kan selalu dominasinya bahan baku, baru barang modal. Barang konsumsi juga, tapi ya perannya tidak banyak berubah," ujarnya.


Di sisi lain, ekspor juga belum cukup pesat dibandingkan impor yang jalan terus, disamping aliran modal yang keluar (capital outflow) dari Indonesia juga cukup deras sementara modal yang masuk (capital inflow) tidak seberapa.

"Sebenarnya persoalan kita sekarang kan lebih banyak karena ekspor melambat impornya tetap tinggi sehingga defisitnya membesar. Tapi yang lebih banyak pengaruhnya sebetulnya karena capital outflow-nya banyak, inflow-nya sedikit," tambahnya.




Tonton juga 'Jokowi Singgung Neraca Dagang RI Defisit di TEI 2018':

[Gambas:Video 20detik]

(hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed