Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 02 Des 2018 14:08 WIB

Fenomena Pembayaran QR

Tren Belanja Kekinian Pakai QR tapi Terkendala Sinyal

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: Danang Sugianto Foto: Danang Sugianto
Jakarta - Siang itu, di sebuah Mal di Jakarta, Sarah dan 1 orang temannya terlihat sibuk memainkan smartphone-nya. Dia berdiri tepat di depan sebuah restoran ala Jepang, Yoshinoya.

Ternyata dia dan temannya itu tengah sibuk mencocokkan harga makanan yang ingin dibeli degan saldo yang ada di akun Go-Paynya.

"Ini saldonya kurang, kita mau isi dulu," ujarnya kepada detikFinance.

Padahal, di dompetnya terselip beberapa lembar uang Rp 100 ribu. Namun dirinya rela meluangkan sedikit waktu untuk mengisi saldo Go-Paynya menggunakan mobile banking.


Ternyata saat itu Go-Pay tengah mengadakan promo diskon di mitra merchant hingga 50% dengan syarat dan ketentuan yang berlaku. Pantas saja Sarah dan temannya itu yang baru saja lulus kuliah memaksakan diri menggunakan Go-Pay.

"Tapi enggak juga sih, aku emang sudah biasa pakai Go-Pay, ya sejak promo besar-besaran kemarin juga sih," akunya.

Menurut Sarah, bertransaksi menggunakan QR payment membuatnya nyaman. Tidak perlu khawatir lupa membawa dompet, dengan scan barcode transaksi selesai.

Vivi, pembeli yang ikut mengantre saat itu juga mengaku sudah terbiasa menggunakan dompet elektronik. Bukan hanya Go-Pay, dia juga mengaku pengguna setia Ovo untuk membayar ongkos ojek online

"Tapi semenjak ada promo saya sering pakai buat belanja. Tapi saya merasa juga lebih mudah sih transaksinya. Ya saya sih pakai juga karena ingin dukung kampanye cashless society," ujarnya.

Di mal yang berlokasi di Jakarta Timur itu, sebagian besar memang tokonya terlihat menerima pembayaran menggunakan QR payment. Selain Go-Pay dan Ovo, ada juga toko yang menerima pembayaran menggunakan Yap! dan Sakuku.

Meski terlihat memanjakan para pengguna dari sisi pembeli, ternyata transaksi QR payment dikeluhkan oleh pegawai tokonya. Niken, pegawai Yoshinoya mengaku lebih senang jika menerima pembayaran menggunakan uang tunai.

"Buat kita pegawai lebih mudah pakai tunai. Karena ribet juga pakainya. Apalagi kalau gangguan sinyal, sinyalnya kadang-kadang gangguan," taambahnya.


Gangguan sinyal pada mesin EDC yang mencetak QR code menjadi hal yang ditakutkan pegawai merchant QR payment. Ketika gangguan dan transaksi tidak bisa diproses maka akan menimbulkan penumpukan antrian.

Saat itu di gerai Hoka Hoka Bento, juga terlihat seorang petugas teknisi yang menggunakan kaus bertuliskan Go-Pay tengah sibuk mengutak-atik mesing EDC QR code. Si pegawai mengeluhkan mesin itu sering 'lemot'.

"Ada dua mesin, yang ini masih normal, tapi yang ini suka lemot," keluhnya.

Meski masih ada beberapa kesalahan minor, namun pihak penyedia QR payment tetap bertanggungjawab untuk memberikan layakan servis.

"Sistem customer care kami sangat sigap dalam menanggapi keluhan pengguna. Pengguna dapat mengakses customer care secara mudah dan cepat 24 jam sehari, 7 hari seminggu melalui aplikasi Go-JEK, email cs@go-pay.co.id atau melalui hotline khusus 1500304," kata Managing Director Go-Pay Budi Gandasoebrata melalui pernyataan tertulis.


Tonton juga 'Gelang Haji Kini Dilengkapi QR Code':

[Gambas:Video 20detik]

Tren Belanja Kekinian Pakai QR tapi Terkendala Sinyal
(erd/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed