Bulog akan Serap Jagung Seharga Rp 3.150/Kg saat Panen

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Selasa, 22 Jan 2019 17:53 WIB
Gedung Bulog/Foto: Dikhy Sasra
Jakarta - Perum Bulog diminta menyerap jagung dengan harga Rp 3.150 per kilogram (kg). Penyerapan berlangsung pada panen raya yang jatuh pada Februari hingga April ini.

Kebijakan ini diputuskan dalam rapat koordinasi (rakor) yang dipimpin Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution siang ini. Hadir dalam rapat Menteri BUMN Rini Soemarno, Menteri Pertanian Amran Sulaiman, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, dan Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso (Buwas).

Menurut Amran, penugasan tersebut dilakukan guna menjaga pasokan di bulan Oktober nanti. Sebab diperkirakan jumlah panen jagung akan berkurang di waktu itu.


"Bulog akan melakukan serapan panen puncak untuk disimpan stok panen nanti untuk bulan Oktober. Dulu beras sekarang jagung juga dan disimpan untuk paceklik saat panen lebih rendah itu rencana kita," kata dia di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa (22/1/2019).

Lebih lanjut, ia menjelaskan untuk menghadapi panen tersebut pihaknya juga akan menyiapkan sebanyak 900 ribu dryer atau pengering. Sehingga kualitas jagung tetap akan terjaga di tengah musim hujan.

"Kita siapkan untuk menghadapi panen puncak Februari, Maret, April bersamaan antisipasi atas perintah Bapak Presiden kita persiapkan 900 ribu unit dryer untuk jagung dan beras," kata Amran.


Kemudian, Enggartiasto menjelaskan harga yang ditetapkan untuk Bulog menyerap jagung nantinya sebesar Rp 3.150 per kilogram (kg). Sedangkan harga jualnya sebesar Rp 4.000 per kg.

"Sesuai HPP, penjualan Rp 4.000 per kg. Kalau penyerapan kan ada persentase berapa persen keringnya dan segala macam itu Rp 3.150 per kg kalau nggak salah," ungkap Enggar.

Ditemui di lokasi yang sama, Buwas mengungkapkan pihaknya siap untuk melakukan penyerapan jagung. Bahkan, ada beberapa daerah yang telah ditinjau untuk penyerapan awal.


Adapun, daerah tersebut adalah Garut, Tasikmalaya, Ciamis hingga daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

"Jadi kita mengikuti pola-pola panen akan kita serap sesuai wilayah. Sekarang sudah kita petakan beberapa peta termasuk Garut, Tasik, Ciamis, dan Jawa Timur, Jawa Tengah itu akan kita serap," terang Buwas. (hns/hns)