Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 29 Jan 2019 17:46 WIB

Impor Jagung Dibuka Lagi, Kali Ini Tanpa Kuota

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Deny Prastyo Utomo/detikcom Foto: Deny Prastyo Utomo/detikcom
Jakarta - Pemerintah menugaskan Perum Bulog mengimpor jagung untuk pakan ternak. Berbeda dengan impor sebelumnya, kali ini Bulog tidak dibatasi kuota.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menjelaskan pemerintah menugaskan Bulog impor karena pasokan masih kurang. Sebelumnya pemerintah sudah membuka dua kali impor jagung dengan kuota 100.000 ton dan 30.000 ton.

Darmin bilang impor 30 ribu ton jagung yang terakhir belum bisa mencukupi sehingga perlu ditambah.


"Permintaan-permintaan dari peternak kecil menengah baik petelur maupun pedaging itu masuk terus ke Bulog. Sehingga waktu Kamis itu, waktu kita review bahkan impor yang 30 ribu kemudian yang sudah di jalan itu sudah habis, permintaannya lebih banyak dari situ," kata Darmin di Kementerian Koordinator Perekonomian, Selasa (29/1/2019).

Darmin mengatakan, meski tanpa kuota, pemerintah membatasi impor sampai pertengahan Maret 2019 agar tidak bentrok dengan musim panen jagung.


"Maka kemudian dari hasil diskusi kita ini harus ditambah, cuma kita kan tidak boleh impor pada waktu panen terjadi, sehingga yang kita berikan adalah kita memberikan plafon kepada Bulog. Anda boleh impor tapi nggak boleh masuk lebih dari pertengahan Maret supaya jangan nanti ada jagung impor, ada jagung dalam produksi dalam negeri," terang Darmin.

"Kalau hanya bisa diimpor 100 ribu ya 100 ribu, kalau kurang dari situ ya kurang dari situ pokoknya batasnya pertengahan Maret," tambahnya.


Darmin melanjutkan, permintaan jagung ini besar bahkan juga datang dari perusahaan-perusahaan besar. Meski demikian, pemerintah meminta agar diutamakan untuk pengusaha kecil menengah.

"Nah itu baru diproses sekarang tapi permintaan dari peternak, terus terang peternak besar banyak ada, tapi kita bilang diutamakan sama kecil menengah dululah. Artinya harga di market, ritel itu masih terlalu tinggi, sehingga mereka berharap ada impor pemerintah supaya harganya turun," ujarnya. (hns/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed