Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 04 Feb 2019 18:39 WIB

Kasihan, Peternak Babi di China Tidak Bisa Imlekan

Danang Sugianto - detikFinance
Ilustrasi Imlek. Foto: Reuters Ilustrasi Imlek. Foto: Reuters
Jakarta - Sebagian besar masyarakat Tionghoa tengah bersuka cita menyambut perayaan tahun baru China atau Imlek. Namun kebahagiaan itu sepertinya tidak menyelimuti pasangan peternak Zhang Shipping dan Bai Fuqin.

Keduanya tengah mengalami musibah demam babi. Sejak Agustus 2018 wabah demam babi sudah menyerang sebuah peternakan di dekat kota Shenyang.

Melansir The Star, Senin (4/2/2019), pasangan itu telah berhutang sekitar 300.000 yuan atau US$ 44.712,72. Uang itu lebih besar 10 kali lipat dari apa yang mereka bisa hasilkan dari memelihara babi.

Penyakit yang tak tersembuhkan itu telah menempuh ribuan kilometer, menyerang sebagian besar peternakan kecil di negara penghasil daging babi terbesar di dunia dan memicu pergolakan yang belum pernah terjadi sebelumnya di sektor babi China senilai US$ 1 triliun.

Meskipun pertanian Zhang tidak terinfeksi, langkah-langkah untuk menghentikan penyebarannya secara efektif telah membunuh mata pencaharian keluarganya.


Beijing dilarang mengambil babi dari wilayah yang terinfeksi pada bulan September. Belum lagi pemerintahnya melakukan pemusnahan.

Perdagangan di perbatasan lumpuh, terutama di Timur laut Provinsi Liaoning, yang menghasilkan sekitar sepertiga lebih babi dan sangat bergantung pada ekspor. Harga babi turun di bawah 4 yuan per kilogram bulan ini, harga termurah di satu dekade.

Zhang dan Bai menyingkirkan sekitar 30 babi bulan ini, kehilangan sekitar 800 yuan untuk satu Babi.

Mereka masih memiliki hampir 50 babi yang sekarang jadi kelebihan berat badan dan lemak. "Kita hampir tidak dapat bertahan hidup," kata Bai.

Bai dan tiga petani lainnya di Changtu mengatakan mereka tidak akan terus meningkatkan berternak babi. Puluhan ribu peternak seperti mereka diperkirakan akan meninggalkan babi setelah bulan lemah harga dan pembatasan bergerak babi ke pasar.

"Saya telah mengalami semua jenis pasang surut pada industri babi. Tapi tidak yang lebih pahit sebagai tahun ini," kata Hongbo.

(das/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com