Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 27 Feb 2019 14:30 WIB

Negosiasi Brexit Mandek, Inggris Bisa Krisis Buah dan Sayur

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: DW (News) Foto: DW (News)
Jakarta - Negosiasi Brexit (British Exit) yang mandek berisiko menciptakan krisis ekonomi baru di Inggris. Pemerintah Inggris mengeluarkan analisis berupa konsekuensi-konsekuensi yang dimungkinkan dari Brexit yang sampai saat ini masih belum pasti.

Dikutip dari CNN.com, Rabu (27/2/2019), kondisi itu menjadi perhatian karena negara Union Jack tersebut belum siap untuk meninggalkan Uni Eropa pada 29 Maret tanpa kesepakatan transisi.

Dengan sisa waktu satu bulan, pemerintah masih kekurangan dukungan parlemen untuk kesepakatan perpisahan dengan Uni Eropa (UE). Dukungan tersebut diperlukan untuk melindungi perdagangan dan hubungan dengan negara UE lainnya selama hampir dua tahun setelah pengaturan jangka panjang Brexit disepakati.


Dalam analisisnya, pemerintah Inggris menyatakan baru menyelesaikan dua dari tiga kesepakatan paling kritis untuk bercerai dengan UE, Sementara banyak perusahaan dan orang-orang yang belum siap untuk benar-benar berpisah dengan Uni Eropa bulan depan.

Risiko ini sendiri agak memudar ketika Perdana Menteri Inggris Theresa May membuka peluang menunda keputusan Brexit, sebab langkah ini dinilai berisiko terhadap pertikaian antara kelompok anti-blok Uni Eropa (eurosceptics) di partai konservatinya.


Persoalan brexit yang masih 'galau' belum usai, dan analisis pemerintah menunjukkan seberapa mahal biayanya. Berikut beberapa konsekuensi yang bisa terjadi gara-gara brexit mandek:

1. Kekurangan makanan tertentu, terutama buah dan sayuran segar.
2. Kenaikan harga beberapa makanan
3. Biaya baru £ 13 miliar ($ 17 miliar) untuk administrasi perusahaan.
4. Tarif UE sekitar 70% untuk daging sapi dan 45% untuk ekspor domba.
5. Hilangnya pengaturan perdagangan bebas dengan negara-negara termasuk Jepang dan Turki.
6. Kehilangan akses pasar dan hambatan perdagangan baru untuk sektor layanan Inggris.
7. Mengurangi aliran barang melintasi Selat Inggris di Dover

Kelompok negosiasi bisnis sendiri telah meminta kejelasan tentang syarat perpisahan dan hubungan perdagangan Inggris di masa depan dengan Uni Eropa sejak negara itu memilih Brexit pada Juni 2016. Namun dalam beberapa minggu terakhir, fokus mereka berubah.

Berpisah dengan Uni Eropa tanpa kepastian akan menimbulkan biaya baru dan hambatan perdagangan untuk perusahaan di Inggris. Rantai pasok yang panjang akan menggerogoti dan menempatkan perusahaan manufaktur dalam posisi yang sangat sulit.

Bencana untuk Inggris

Kamar Dagang Inggris telah memperingatkan hal ini akan menjadi bencana bagi ekonomi Inggris, baik bagi bisnis perusahaan dan mata pencaharian individu.

McDonald's (MCD) dan KFC (YUM) telah bergabung dengan supermarket-supermarket Inggris untuk mengantisipasi perceraian dari Uni Eropa yang akan mengakibatkan gangguan signifikan pada rantai pasokan mereka.

Perusahaan mengatakan mereka menimbun barang di mana saja yang memungkinkan. Namun semua penyimpanan beku dan dingin sudah digunakan dan hanya sedikit ruang penyimpanan umum yang tersedia.


Para produsen mobil juga sudah membatalkan investasi yang direncanakan, dan pabrik bersiap untuk nganggur. Airbus (EADSF) mengatakan bahwa investasi masa depan perusahaan di Inggris akan berubah. Sementara Bank dan perusahaan keuangan lainnya juga menggeser aset senilai paling tidak £ 800 miliar (US$ 1 triliun) ke luar negeri.

Analisis pemerintah sendiri menyimpulkan bahwa sekarang sudah terlambat bagi perusahaan untuk mempersiapkan sepenuhnya.

"Waktu singkat yang tersisa sebelum 29 Maret 2019 tidak memungkinkan Pemerintah untuk secara sepihak mengurangi dampak dari tidak ada kesepakatan," bunyi laporan tersebut.

Negosiasi Brexit Mandek, Inggris Bisa Krisis Buah dan Sayur
(eds/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com