Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 10 Apr 2019 16:11 WIB

BUMN 'Si Unyil' Ingin Kembalikan Kejayaan Film Anak-anak

Fadhly Fauzi Rachman - detikFinance
Foto: (chandrasambas/dTraveler) Foto: (chandrasambas/d'Traveler)
Jakarta -

Film anak-anak pernah berjaya di era 1990-an. Dulu, setiap hari Minggu, film anak menjadi yang paling ditunggu karena tayang dari pagi hingga siang. Macam-macam film anak tayang di beragam saluran tv.

Kini, film anak seakan redup. BUMN perfilman, yakni Perum Produksi Film Negara (PFN) berencana untuk mengembalikan film anak ke masa kejayaannya. PFN merupakan BUMN yang memproduksi film 'Si Unyil'.

Direktur Utama PFN Mohamad Abduh Aziz mengatakan saat ini film bertema remaja hingga horror jadi yang paling banyak diproduksi. Ia menilai, industri film lokal perlu memperkaya kembali genre-genre film yang ada. Salah satunya dengan banyak melahirkan film-film bertema anak-anak.

"Ini yang juga jadi perhatian kita bagaimana kita mulai memperkaya tema film juga. Film anak-anak itu sebenarnya itu film yang paling besar pangsanya, cuma masih sedikit diproduksi," kata Abduh kepada detikFinance, Jakarta, Senin (8/4/2019).

Menurut Abduh, film bertema anak menjadi genre yang memiliki peluang pasar paling besar. Terutama bila film anak diproduksi dengan maksimal.

"Film anak-anak perlu karena pasarnya besar sebenarnya. Kalau film anak ini kan intinya anak nggak mungkin jalan sendiri ke bioskop, bapak ibunya mesti nonton, kakek neneknya mungkin nonton. Sukses Keluarga Cemara kemarin dengan satu koma sekian juta itu sebenarnya indikasi kalau filmnya dibuat dengan baik, saya kira dengan promosi yang baik, film anak-anak juga punya peluang," katanya.


Tapi, kata Abduh, penggarapan film bertema anak-anak tidak bisa dilakukan seadanya. Dia bilang, untuk bisa berjaya lagi film bertema anak-anak perlu bertransformasi jadi lebih baik dan diterima semua pihak.

"Artinya dengan pemilihan cerita yang tepat, ini kira-kira juga kan kita membuat cerita anak juga film yang sebenarnya yang tidak terlalu kanak-kanak isinya. Visi orang dewasa yang dicangkokkan pada anak-anak. Memang kita butuh cerita-cerita yang kuat dan khazanah cerita Indonesia kan banyak, berbasis tradisi segala macam," ujarnya.

"Misalnya kalau ngangkat Unyil tetap dengan format dulu, ya sekarang mana ada yang mau nonton. Ini generasi yang berbeda sama sekali, di mana teknologi sudah jadi makanan sehari-hari. Sehingga filmnya juga harus jauh lebih teknologis sifatnya," sambung Abduh.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk menghidupkan kembali film anak-anak bisa dengan memperbarui karakter-karakter lama yang sudah lekat di masyarakat.

"Jadi menggunakan karakter yang secara kolektif memori orang masih sangat kuat. Karena kalau kita lihat kan banyak sekali film-film Indonesia yang berhasil karena menggunakan ide lama,yang dihidupkan lagi. Kemarin ada Wiro Sableng, Keluarga Cemara. Gundala mau muncul, lalu si buta dari gua hantu juga mau muncul, dan segala macamnya," kata Abduh.

Untuk mencoba hal itu, Abduh mengatakan PFN bekerja sama dengan PT Balai Pustaka (Persero) untuk bisa menghidupkan cerita atau karakter-karakter lama yang lekat di ingatan masyarakat luas.

"Kami ini kan kerja sama dengan Balai Pustaka. Balai Pustaka ini kan juga BUMN. Sebagai gudangnya cerita, sebenarnya kan dia juga punya banyak buku-buku, atau kisah-kisah yang bisa diangkat.," tuturnya.

(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com