Ekonomi RI Mandek 5% Jadi Perhatian di Debat Capres Terakhir

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 11 Apr 2019 13:44 WIB
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Pada debat terakhir nanti, nampaknya kedua capres dan cawapres akan ramai membahas mengenai pertumbuhan ekonomi tanah air yang di level 5%.

Pemerintah mengklaim bahwa realisasi 5,17% pada 2018 termasuk baik di tengah ketidakpastian global. Bahkan, angka tersebut masih urutan ketiga di G20, setelah India dan China. Tapi, ada juga yang menganggap bahwa realisasi 5% terkesan kurang baik atau jalan di tempat.

Ekonom Universitas Indonesia (UI) Fithra Faisal Hastiadi mengungkapkan pemerintah dalam lima tahun ini kurang memberikan stimulus pada pertumbuhan ekonomi. Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia tak bergerak dari posisi 5%.

Ia mengungkapkan berdasarkan penelitian empiris, Indonesia seharusnya mampu tumbuh minimal 6 persen sepanjang 2015 hingga 2017. Namun, faktanya tingkat pertumbuhan hanya berada di kisaran 4-5%.

"Artinya, selama ini Indonesia tumbuh di bawah angka potensial. Berarti pemerintah kurang punya dorongan untuk pertumbuhan ekonomi mencapai tingkat potensial. Tanpa pemerintah Indonesia saja bisa tumbuh 5%," dalam diskusi 5% Economics Trap di Jakarta, seperti dikutip Kamis (11/4/2019).

Menurutnya, kebijakan ekonomi pemerintah cenderung salah arah. Menurutnya, ada tiga kebijakan ekonomi pemerintah yang salah arah.


Pertama, kebijakan pemerintah menimbulkan crowding out effect yakni aksi berebut dana antara pemerintah dan korporasi dalam menghimpun dana. Kecenderungannya, sektor swasta tidak kebagian lantaran pemerintah menguasai sekitar 85% total obligasi di pasar.

Lalu, pemerintah belum mengeluarkan insentif fiskal yang berdampak langsung kepada konsumsi, misalnya potongan pajak (tax cut). Pelonggaran fiskal yang selama ini diberikan oleh pemerintah dinilai kurang memberikan dampak langsung kepada konsumsi.

Dan terakhir, pemerintah dinilainya abai terhadap investasi pada industri manufaktur dan Sumber Daya Manusia (SDM) karena terlalu fokus pada pembangunan infrastruktur. Sayangnya, pertumbuhan infrastruktur saat ini memiliki tingkat korelasi yang rendah terhadap pertumbuhan industri.

Sementara itu Ketua FAP NKRI, Muhammad Sirod berpandangan, mandeknya pertumbuhan ekonomi di level 5% karena realisasi dan akselerasi antara pembangunan infrastruktur belum berdampak besar pada pertumbuhan ekonomi.

"Kami ingin mengulas, mengapa ekonomi saat ini bisa jalan di tempat sedangkan pemerintah saat ini gembar-gembor pembangunan infrastruktur yang berdampak pada percepatan
pertumbuhan ekonomi di seluruh negeri," kata Sirod.

"Perangkap jualan iklan tentang pertumbuhan yang tidak sesuai dengan realita di lapangan, yang imbasnya. Banyak masyarakat yang merasa tertipu akan janji-janji manis dari periode pemerintah saat ini," tambah dia.




Tonton juga video Sandi: Pemerintah Terjebak Dalam Pertumbuhan Ekonomi 5%:

[Gambas:Video 20detik]

(hek/fdl)