Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 14 Apr 2019 08:11 WIB

Liputan Khusus Aplikasi Anti Tengkulak

Tengkulak di Zaman Serba Aplikasi Handphone

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: iStock Foto: iStock
Jakarta - "Selamat tinggal para tengkulak"

Mungkin kalimat itu tepat dikumandangkan saat teknologi menjadi sebuah solusi bagi para petani kecil di daerah dalam menjual dan memasarkan hasil produksinya.

Dengan teknologi IT, para petani kini bisa menjual hasil produksi langsung pada tingkat konsumen. Itu artinya, tidak ada lagi peran para tengkulak yang terkenal tega dalam menghargai hasil produksi petani tanah air.

Ada beberapa teknologi yang sudah berbentuk aplikasi bisa dimanfaatkan oleh petani. Sebut saja Tanihub dan Tanijoy. Kedua aplikasi ini sama-sama memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dan memotong rantai distribusi.

Namun, sebagian kalangan bahkan dari petani sendiri ada yang menilai bahwa peran aplikasi itu sebagai pemotong mata rantai distribusi belum maksimal. Akan tetapi, sebelum masuk ke masalah ini, kita bahas masing-masing aplikasinya.

Untuk Tanihub, ide pembuatan aplikasi ini muncul pada tahun 2015 saat acara Google Startup Weekend ke-2. Idenya sederhana, yaitu ingin menjawab suatu permasalahan besar yang terjadi di Indonesia yang dapat diselesaikan dengan teknologi.

"Akhirnya kami memilih tema pertanian dengan target agar produk kami dapat membantu menyelesaikan masalah supply chain pertanian akibat keterbatasan akses ke informasi," kata Co-Founder TaniHub Pamitra Wineka kepada detikFinance, Jakarta, Sabtu (6/4/2019).

Aplikasi yang diberi nama TaniHub karena bertujuan menjadi penghubung antara petani langsung dengan pembeli. Bahkan, petani bisa berhubungan langsung dengan para mitra seperti penjual bibit, pupuk, lembaga keuangan, dan pemerintah.

Ketika sudah menjalankan aplikasinya, baru pada 2016 TaniHub melakukan transaksi perdana menyerap hasil produksi petani dengan harga Rp 156.000. Pada masa itu juga diakui bahwa kesejahteraan petani merupakan prioritas yang harus digarap, sehingga lahir lah aplikasi TaniFund yang tujuannya membantu keuangan para petani. Jadi, aplikasi ini tidak hanya berfokus memotong mata rantau distribusi saja.

Pamitra menceritakan, sektor pertanian Indonesia merupakan kontributor terbesar ke-2 dari PDB Indonesia dan 31% tenaga kerja Indonesia bekerja di sektor pertanian. Dengan diciptakannya TaniHub diharapkan bisa memenuhi permintaan dalam negeri dan mampu menekan laju impor produk pertanian yang selama ini tercatat masih tinggi di neraca perdagangan Indonesia.

"Target market TaniHub adalah UMKM serta individu yang ingin mendapatkan produk-produk segar berkualitas, langsung dari petani lokal, dengan harga yang baik serta sama-sama ingin membantu petani," ujar dia.

"Dalam setiap komunikasi dengan klien kami selalu menempatkan diri bahwa TaniHub bukan hanya sekedar menjual fresh goods namun juga membawa misi untuk meningkatkan kesejahteraan para petani lokal Indonesia supaya tidak lagi mereka selalu identik dengan kemiskinan dan keterbelakangan," tambahnya.

Adapun, produk segar yang ditawarkan TaniHub antara lain buah, sayur, unggas, ubi-ubian, dan beras. Sedangkan TaniFund, menawarkan investasi sektor budidaya dan transaksi pembiayaan.

Jika ingin menjadi mitra TaniHub, caranya mudah yaitu tinggal daftar di website TaniHub dan mengisinya sesuai persyaratan yang ada. Nantinya, akan ada proses penyesuaian.

"Dari segi harga, TaniHub memiliki prioritas untuk memberikan harga yang adil dan menguntungkan untuk para petani dan menarik untuk pembeli. Komisi yang diambil TaniHub sangatlah kecil," jelas dia.

Saat ini, TaniHub sudah bekerja sama dengan sekitar 20 ribu petani atau 1.200 kelompok tani di seluruh Indonesia. Adapun, target pada tahun ini mitra menjadi 30 ribuan.

Sementara untuk TaniJoy, lahir pada 2017 karena kekhawatiran produktivitas pertanian nasional yang tidak optimal. Aplikasi yang dibuat sendiri oleh anak-anak nasional ini melihat masih kurang sejahteranya petani dalam negeri. Padahal, 35% tenaga kerja Indonesia adalah petani, yang 60% merupakan para usia senja.

"Hal tersebut berdampak pada produktifitas tanaman yang tidak optimal. Permasalahan-permasalahan ini lah yang menginspirasi kami untuk membawa perubahan ke Pertanian Indonesia melalui pendekatan teknologi," Co Founder & CEO TaniJoy Muhammad Nanda Putra.

Hingga saat ini, TaniJoy sudah memiliki mitra 640 petani aktif dari potensi 2.132 yang tersebar di Jawa dan Sumatera. Sementara mitra pembeli ada 10, yang tersebar di Jakarta sebanyak tujuh mitra, satu mitra di Surabaya, satu mitra di Medan, dan satu mitra di Bogor satu.

Nanda menceritakan, modal awal membangun aplikasi ini sebesar Rp 60 juta. Aplikasi ini memiliki layanan Tanijoy investment app (untuk investor) dan Tanijoy for farmer (untuk Mitra Tani).

Dari aplikasi ini, para mitra petani akan mendapatkan dukungan permodalan, asistensi teknis budidaya dan akses pasar. "Tanijoy tidak sekedar memutus rantai distribusi namun kami juga membantu petani melalui permodalan input, sehingga hasil panen bisa kami kontrol," kata Nanda.

TaniJoy fokus mengelola produk hortikultura, dengan mayoritas komoditas yang diproduksi berupa kentang, cabai, sayur mayur, dan jagung.

Sudah efektif kah aplikasi memangkas peran tengkulak pertanian? Simak berita selanjutnya hanya di detikFinance.

(hek/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed