Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 15 Mei 2019 16:13 WIB

Sri Mulyani Ramal Perang Dagang AS-China Masih Panjang

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Grandyos Zafna Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Perang dagang yang terjadi antara kedua negara besar seperti Amerika Serikat (AS) dan China masih terjadi hingga saat ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjelaskan yang perlu diwaspadai dari dampak perang dagang tersebut.

"Sinyal situasi ini tidak akan reda dalam jangka pendek, karena pola konfrontasi sangat head to head. Sehingga untuk dua negara besar ini diplomasi jadi lebih sulit," kata Sri Mulyani di Kementerian ESDM, Jakarta Pusat, Rabu (15/5/2019).

Dia menjelaskan, ketegangan ini masih akan cukup panjang. Hal ini tercermin dari China yang mendapatkan dampak perlambatan ekonomi.

"Kalau stimulasi yang dilakukan tidak pengaruh ke sektor keuangan, ini akan menekan kondisi masing-masing negara. Sementara di AS jika kenaikan harga memunculkan inflasi maka pengaruhnya dua yakni suku bunga meningkat dan penurunan daya beli. Keduanya tidak bagus untuk dunia," jelas dia.


Menurut dia, saat ini yang diperhatikan adalah pengaruhnya ke ekonomi global. Apakah terjadi perlambatan pada pertumbuhan dan perdagangan.

"Untuk negara seperti kita yang masih tergantung ke external balance, ini berarti kita tidak mungkin mengandalkan ekspor sebagai mesin pertumbuhan," imbuh dia.

Namun, positifnya ada banyak barang yang tadinya kita impor untuk menopang industri, jadi tersedia. Hal ini berarti mempengaruhi industrialisasi yang dicanangkan oleh pemerintah.

"Jadi semuanya berkaitan, artinya ekonomi sedang dalam tekanan global yang sangat serius melakukan ketidakpastian itu. Kita harus lihat aspek domestik kita. Dan ini kewaspadaan bagi kita," jelas dia.

(kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com