Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 17 Mei 2019 13:47 WIB

Neraca Migas Tekor Terus, RI Darurat Sumur Minyak?

Hendra Kusuma - detikFinance
Foto: Pradita Utama/detikcom Foto: Pradita Utama/detikcom
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat terdapat selisih defisit US$ 2,76 miliar pada realisasi neraca perdagangan migas di April 2019. Hal itu terjadi karena nilai impornya lebih besar daripada ekspor.

Peneliti dari INDEF Bhima Yudhistira mengatakan, saat ini Indonesia mengalami kekurangan sumur minyak di saat produktivitasnya terus menurun.

"Lifting minyak terus memburuk akibat kurangnya pencarian sumur-sumur baru. Produksi dalam negeri tidak mampu cukupi kebutuhan konsumsi," kata Bhima saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Jumat (17/5/2019).


Rendahnya produksi minyak dalam negeri pun harus diimbangi dengan impor demi memenuhi kebutuhan konsumsi yang sudah mencapai di atas 1 juta barel per hari. Sedangkan produksinya di sekitar 700-an ribu barel per hari.

Apalagi, defisit neraca migas yang mencapai US$ 2,76 miliar dipicu impor untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) selama musim mudik Lebaran tahun 2019. Apalagi ada peralihan dari angkutan udara ke angkutan darat karena harga tiket yang mahal.

"Adanya pengalihan transportasi dari udara karena tiket pesawat mahal ke transport darat diprediksi naikkan konsumsi BBM," ujar dia.

(hek/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com