Follow detikFinance Follow Linkedin
Sabtu, 18 Mei 2019 18:12 WIB

Kritik Utang hingga Neraca Dagang Tekor, Fadli Zon: Rezim Gagal!

Hendra Kusuma - detikFinance
Fadli Zon/Foto: Tsarina/detikcom Fadli Zon/Foto: Tsarina/detikcom
Jakarta - Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Fadli Zon menyebut pemerintahan di era Presiden Joko Widodo (Jokowi) rezim yang gagal, khususnya di masalah ekonomi. Dia memaparkan beberapa hal yang menjadi dasar pernyataan tersebut.

Dia mencatat setidaknya ada empat kabar buruk bagi perekonomian tanah air sepanjang April kemarin. Melalui akun Twitter @fadlizon, dirinya menyampaikan empat kabar buruk tersebut, Sabtu (18/5/2019).

"Dalam sebulan terakhir, saya mencatat setidaknya ada empat kabar buruk ekonomi yang muncul secara berturut-turut," cuit Fadli Zon.

Adapun, empat kabar buruk bagi perekonomian tersebut adalah, utang pemerintah, nilai tukar (kurs) rupiah, capaian pertumbuhan ekonomi, dan defisit atau tekor neraca perdagangan.


Pertama, soal utang, Fadli Zon mengatakan jumlanya terus meningkat sejak 31 Desember 2018, posisi utang adalah Rp 4.418,13 triliun. Pada akhir April 2019 jumlahnya telah meningkat menjadi Rp 4.528,45 triliun.

"Artinya, ada penambahan jumlah utang sebesar Rp 110,32 triliun sejak Januari 2019 lalu, atau meningkat sebesar Rp 347,84 triliun jika dihitung sejak April 2018, yang angkanya Rp 4.180,61 triliun," cuit Fadli Zon.

Kedua, kata Fadli Zon mengenai proyeksi penurunan target pertumbuhan ekonomi di tahun 2019 yang menjadi 5,2%. Ketiga, mengenai nilai tukar atau kurs. Fadli menyebut, telah terjadi pelemahan pada nilai rupiah terhadap dolar AS.


Dia biang nilai tukar rupiah pada pertengahan Mei 2019 tercatat melemah 1,45% secara point to point dibandingkan dengan level akhir April lalu. Angka ini disebut melemah sekitar 1,36% secara rerata jika dibandingkan rerata bulan lalu.

Keempat, adalah defisit neraca dagang April 2019 yang menjadi rekor terparah sepanjang sejarah.

"Merujuk pada data historis, selama kurun waktu 1975 hingga 2018, neraca perdagangan kita sebenarnya hanya pernah mengalami defisit lima kali, yaitu pada 1975, 2012, 2013, 2014 dan 2018," cuit Fadli Zon.

Tak lupa, Fadli mengaitkan hal ini dengan kecurangan Pemilu 2019 yang dia sebut kian masif.

"Jadi, jika demokrasi gagal ditegakkan, hukum gagal diangkat, dan kini ekonomi juga kian amburadul, maka rezim ini memang pantas disebut rezim gagal," katanya.

(eds/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com