Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 14 Jun 2019 14:49 WIB

Omzet Pedagang Mainan di Tanah Abang Anjlok 40%, Kenapa?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Ilustrasi Foto: Grandyos Zafna Ilustrasi Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Pedagang mainan di Pasar Tanah Abang mengeluh sepi pembeli. Bahkan, di bulan ramadhan hingga jelang lebaran penjualannya lebih rendah dibandingkan dengan tahun lalu.

Seminah, salah satu pedagang mainan di Pasar Tanah Abang contohnya. Ia mengeluhkan sepi pembeli. Biasanya, omzet penjualan di lebaran tahun-tahun lalu bisa mencapai Rp 5.000.000 per hari. Namun, di lebaran tahun ini ia hanya memperoleh sekitar Rp 3.000.000-4.000.000 per hari atau sekitar 40%.

"Lebaran tahun ini beda dengan tahun lalu. Saya kalau lebaran bisa jualan sampai Rp 5 juta. Tahun ini mentok itu Rp 4 juta. Paling banyak itu, ya rata-ratanya Rp 3-4 juta lah di lebaran tahun ini," tutur Seminah ketika ditemui detikFinance, Jumat (14/6/2019).

Seminah mengungkapkan, penjualan di lebaran ini seharusnya bisa menutupi kekurangan di hari-hari normal, karena pendapatannya bisa naik 3-5 kali lipat. Di hari normal, biasanya ia memperoleh omzet Rp 500.000-1.000.000 per hari. Ia juga hanya menjajakan sedikit mainan di hari biasa, tak seperti lebaran yang membawa stok lebih banyak.


"Hari biasa mah jualan nggak seberapa. Biasa Rp 500.000-1.000.000. Ya karena bawanya juga sedikit. Sudah tahu kalau bawa banyak bikin capai saja. Kalau lebaran baru saya bawa banyak," jelas dia.

Selain itu, Zulkifli pedagang mainan juga di Pasar Tanah Abang mengeluhkan hal yang sama. Di awal bulan puasa, ia hanya memperoleh Rp 2.000.000-3.000.000 per hari. Padahal, biasanya ia dapat memperoleh omzet dua kali lipat dari angka tersebut.

"Lebaran kemarin Rp 2.000.000-3.000.000 saja. Sepi," ungkap dia.

Bahkan, karena sepinya penjualan ia beralih profesi menjual pakaian muslim pria dan anak-anak menjelang lebaran.

"Udah dekat lebaran jadinya saya ganti jualan baju koko, baju anak-anak," terang dia.


Kedua pedagang tersebut mengatakan, penyebab sepinya pelanggan ini karena adanya ketakutan pembeli untuk menghampiri Pasar Tanah Abang di tengah kondisi politik yang tak stabil. Selain itu, maraknya pasar online juga menjadi faktor besar.

"Sepinya karena demo. Tahun ini menjelang pemilu sampai dengan kemarin agak kurang pasarannya nggak seperti tahun-tahun lalu. Yang jualan pasar online itu juga berpengaruh sekali," jelas Zulkifli.

"Gimana cara menguranginya itu? (pedagang online). Kasihan kita-kita ini. Mereka (pembeli) sudah nggak mau susah-susah ke pasar," sambung Seminah.

Ia mengatakan, sejak 2016 sudah terasa pengaruhnya penjualan mainan di berbagai sistem penjualan online. Bahkan, pembeli yang sudah mendatangi lapaknya sering kali mengecek harga mainan di internet dahulu sebelum membeli. Jika harga barang jualannya lebih mahal, pembeli pergi.

"Mulai dari 2016 sudah berasa. Semua orang bisa pakai online. Kalau mau beli saja, periksa dulu harganya di handphone. Kalau kita jual mahal ya mereka pergi langsung," keluhnya.


Omzet Pedagang Mainan di Tanah Abang Anjlok 40%, Kenapa?
(zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed