Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 28 Jul 2019 09:02 WIB

Liputan Khusus Bisnis Kuliner Vegetarian

Ulah Milenial di Balik Menjamurnya Bisnis Kuliner Vegetarian

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Wahyu Setyo Widodo Foto: Wahyu Setyo Widodo
Jakarta -
Bisnis kuliner vegetarian terus berkembang. Tak heran, makanan vegetarian kini bukan barang 'langka'. Untuk mendapatkannya pun bisa beragam cara, termasuk memanfaatkan media sosial.

Pelaku bisnis katering vegan online, Novita Natalia Kusumawardani menjelaskan, dulu mencari makanan terhitung sulit. Kalaupun ada, harganya juga tidak terjangkau.

Dia bilang, belakangan vegetarian hingga vegan mulai menjadi bagian dari gaya hidup alias kebutuhan. Sehingga, juga menjadi peluang untuk bisnis.

"The Economist pernah bilang 2019 itu adalah tahun vegan dan di Amerika sendiri perkembangan restoran vegan mencoba gaya hidup semakin tambah. Lihat peluang itu sih makin banyak yang mau dan pengalaman sendiri, makan vegan mahal-mahal dan susah nyarinya, akhirnya April buat plantful.id," katanya kepada detikFinance, Selasa (23/7/2019)


Sementara, pemilik Siti Fang Fang Vegetarian, Alexander Raymon mengatakan, vegetarian dan vegan dulu identik dengan pemeluk agama atau penganut aliran kepercayaan tertentu. Saat ini, pandangan itu mulai bergeser dan mulai tak berlaku.

"Kalau dulu identik dengan pemeluk agama tertentu yakni Budha, Taoisme dan etnis tertentu. Tapi makin ke sini makin bergeser, stigma atau stereotype nggak berlaku," katanya.

"Kalau mas ke Bali makin banyak restoran vegetarian menjamur dan waktu ke sana ngobrol pelaku usaha hampir setiap hari melayani orang bule turis-turis Australia, Tiongkok, India dan sebagainya. Waktu saya diskusi karena bukannya para turis pemeluk agama tertentu, bukan, tapi ke arah gaya hidup sehat," jelasnya.

Sementara, Pengamat Bisnis Yuswohady punya pandangan berkembangnya gaya hidup vegan dan vegetarian tak lepas dari kaum milenial dan berkembangnya media sosial. Dia bilang, milenial dikenal dengan kaum yang narsis dan menunjukkan eksistensi diri. Sementara, media sosial menjadi alat atau fasilitas untuk menunjukkan eksistensi.

"Milenial itu generasi yang narsis, kenapa narsis, karena alat-alat tools untuk menunjukkan diri demikian terbuka luas, dan gratis melalui Instagram, Facebook, melalui Twitter. Dan itu TV sama TV Ashiap Atta Halilintar itu nggak beda. Atta bisa ngumpulin jutaan orang, TV juga jutaan orang," jelasnya.


Untuk menunjukkan eksistensi, kaum milenial berlomba menunjukkan keunikan atau pembeda dengan yang lain. Salah satunya dengan menjadi vegan ataupun vegetarian. Sehingga, kata dia, vegetarian atau vegan tak hanya tujuan untuk sehat saja. Namun, juga memiliki fungsi sosial.

"So, sebenarnya gaya hidup sehat, gaya hidup vegetarian, yang kembali ke alam juga sebuah coolnes, cool factor. Kalau dilihat orang lain aku ini peduli kesehatan, aku ini peduli lingkungan, aku peduli makanan yang sehat vegetarian itu bagi dia sesuatu banget, dilihat temennya ada gengsinya. Kemudian orang-orang berlomba-lomba mencari diferensiasi, nilai diri," terangnya.

"Salah satunya kalau dulu orang vegetarian nggak ditampilkan, karena tujuannya untuk sehat. Tapi sekarang not only untuk sehat, tapi ada fungsi sosial, maksud sosialnya untuk dilihat orang lain aku ini punya life style sehat, vegetarian, itu gengsi sosial baru untuk mendapatkan audience," tambahnya.



Tonton video Kreasi Rendang Jamur hingga Sate Kedelai Enak untuk Vegan:

[Gambas:Video 20detik]


Ulah Milenial di Balik Menjamurnya Bisnis Kuliner Vegetarian
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com