Cerita Sri Mulyani Perang Dagang AS-China Makin Panas

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Senin, 26 Agu 2019 12:43 WIB
Foto: Trio Hamdani/detikcom
Jakarta - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang terjaga di kisaran 5% merupakan hal yang cukup positif. Hal ini mengingat hampir semua negara di dunia mengalami pelemahan ekonomi hingga merevisi target pertumbuhannya.

Sri Mulyani mengatakan kondisi global saat ini masih mengalami ketidakpastian. Salah satunya gejolak perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

"Manufaktur global turun masuk ke dalam posisi melemah. Kemudian kalau lihat proyeksi ekonomi yang sudah terlihat dalam tiga kali revisi dan semuanya revisi ke bawah," kata Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTA di Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (26/8/2019).

Sri Mulyani mengatakan, saat ini risiko memanasnya perang dagang AS-China masih terlihat.


"Dari sisi sumber risiko global yang makin meluas terlihat dari ketidakpastian pengambilan kebijakan ekonomi global. Sekarang RRT sampaikan hal yang keras mereka perhitungkan hubungan dengan AS memburuk," katanya.

Dia menjelaskan, perang dagang tersebut membuat harga komoditas ikut menurun. Sejumlah negara pun akhirnya menurunkan suku bunga acuannya.

"Respons global dari sisi moneter menurunkan suku bunga paling tidak The Fed turunkan dan hantaman dari Trump penurunan kurang cepat dan kurang drastis. Ini kita harapkan berikan space kepada dunia usaha untuk bisa tetap menjaga momentum dalam negeri," jelasnya.

"Volatilitas gejolak global ditransmisikan berbagai indikator terutama Dow Jones, treasury dolar AS 10 tahun terus mengalami penurunan indikator reliable prediksi resesi di AS selama 50 tahun terakhir mengikuti US$ bonds 10 tahun dikaitkan jangka lebih pendek," tutupnya.



Simak Video "Ditegur Jokowi, Ini Penjelasan Sri Mulyani Soal Defisit APBN Melebar"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)