Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 05 Sep 2019 16:48 WIB

RI Mau Kenakan Tarif 25% Olahan Susu, Uni Eropa: Melanggar WTO

Vadhia Lidyana - detikFinance
Foto: Vadhia Lidyana Foto: Vadhia Lidyana
Jakarta - Uni Eropa (UE) merespons wacana pemerintah Indonesia yang mau mengenakan bea masuk 20-25% terhadap produk olahan susu. Langkah ini dilakukan untuk membalas UE yang mengenakan bea masuk 8-18% terhadap biodiesel Indonesia.

Head of the Economic and Trade Section Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Raffaele Quarto mengatakan wacana tersebut melanggar ketentuan World Trade Organization (WTO) dan juga berdampak buruk bagi perekonomian Indonesia.

"Inisiasi ini tentunya melanggar peraturan WTO. Tak hanya itu, hal ini juga tak baik untuk perekonomian Indonesia," tutur Raffaele dalam media briefing kerja sama Uni Eropa dan Indonesia terkait kelapa sawit, di Hotel Pullman, Jakarta, Kamis (5/9/2019).


Raffaele mengatakan, WTO memiliki aturan yang mengharuskan negara-negara anggota-anggotanya menjalankan aktivitas perdagangan yang adil. Untuk itu, pemberlakuan tarif terhadap produk olahan susu sebagai 'serangan balasan' ini dianggap melanggar aturan WTO.

"WTO tidak memperbolehkan suatu negara mengenakan tarif sebagai pembalasan, itu dilarang. Dalam hal ini adalah tarif bea masuk dairy products," kata Raffaele.

Kemudian, ia mengatakan, produk olahan susu dari Eropa merupakan bahan baku dari berbagai industri makanan, minuman, dan sebagainya di Indonesia. Terutama produk susu bubuk dari Eropa yang kualitasnya sudah terbukti cocok untuk industri di Indonesia. Dengan begitu, wacana ini hanya akan memberikan kerugian bagi berbagai industri di Indonesia yang menggunakan produk susu olahan dari Eropa.

"Banyak perusahaan di Indonesia yang menggunakan produk olahan susu dari Eropa sebagai bahan baku. Mereka tentunya akan terdampak. Contohnya, Eropa merupakan pemasok susu bubuk di Indonesia yang digunakan oleh berbagai industri. Kalau dikenakan tarif sebesar itu, hanya akan memberikan kerugian," jelas dia.

Raffaele mengatakan, Uni Eropa dan Indonesia selama ini telah bekerja sama dengan baik. Jika kebijakan tarif ini digunakan sebagai 'balasan', maka pihaknya tak dapat menerimanya.

"Sebagai partner yang sudah membangun kerja sama yang sangat baik, tentunya keputusan ini tak dapat kami terima," tegasnya.


Ia bahkan menyentil kasus-kasus sengketa perdagangan antara Indonesia dengan berbagai negara yang sudah tercatat di WTO.

"Indonesia juga memiliki berbagai kasus dengan USA (Amerika Serikat), juga dengan Eropa di WTO. Beberapa kasus Indonesia menang, beberapa kasus Indonesia pun kalah. Jadi, untuk hal ini, UE akan selalu mengikuti peraturan dan administrasi yang telah ditetapkan oleh WTO. Dan WTO memiliki aturan yang melarang suatu keputusan yang digunakan sebagai 'serangan balasan'," tandas Rafaelle.



RI Mau Kenakan Tarif 25% Olahan Susu, Uni Eropa: Melanggar WTO


Simak Video "'Poteng Jadi' dan 'Palopo', Sajian Nikmat dari Susu Kerbau Sumbawa"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com