Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 11 Sep 2019 16:10 WIB

Usaha Tenun Ikat Bantu Ibu Pedalaman Sekolahkan Anak sampai Sarjana

Akfa Nasrulhak - detikFinance
Foto: Akfa Nasrulhak Foto: Akfa Nasrulhak
Jakarta -

Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi salah satu program strategis pemerintah sebagai upaya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat di perdesaan. Keberadaan BUMDes menjadi pilar kegiatan ekonomi di desa yang berfungsi sebagai lembaga sosial dan juga komersial.

Berbondong-bondong desa pun membangun BUMDes salah satunya di desa pedalaman Kalimantan Barat, yakni Desa Ensaid Panjang, Kecamatan Kelam Permai Kabupaten Sintang. Menurut Kepala Desa Ensaid Panjang, Fransisco Heri, dana desa yang diterimanya juga dikelola oleh BUMDes.

Di desa yang merupakan kawasan hutan seluas 22 km persegi ini, terdapat dua bidang usaha yang dikelola BUMDes, yaitu pertanian dan tenun ikat. Khususnya tenun ikat, menurut Fransisco, sangat membantu perekonomian kaum ibu sekaligus meningkatkan gairah untuk melestarikan kerajinan kain tenun ikat khas Suku Dayak.

"Pada 2018 lalu anggaran BUMDes sekitar Rp 60 juta, dan tahun 2019 ini alokasi dana tahap I ada Rp 20 juta. Dengan adanya dana desa dan dibentuk BUMDes ini, salah satunya pengelolaan tenun ikat, membuat perekonomian ibu-ibu di rumah betang meningkatkan pendapatannya," ujar Fransisco, saat ditemui detikcom, Rabu (28/9/2019).

Ke depan, lanjut Fransisco, kerajinan kain tenun yang digeluti kaum ibu-ibu di desa tersebut akan semakin dikembangkan seperti dimodifikasi dengan membuat tas, baju dan lain sebagainya.

"Kain tenunnya nanti bakal bikin pelatihan untuk dimodifikasi. Jadi bukan hanya dalam bentuk lembaran saja, tapi bisa juga untuk dibuat tas, baju dan lain sebagainya. itu mimpi kami, jadi ke depan mudah-mudahan bisa ada pelatihan di 2020 untuk meningkatkan keterampilan menenun mereka sehingga bisa lebih meningkatkan nilai jualnya," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Tenun Ikat BUMDes Ensaid Panjang, Lusiah (38) yang juga salah satu penenun kain tenun ikat mengakui dampak positif dari peranan BUMDes. Setelah ada BUMDes, sabanyak 57 ibu-ibu di Rumah Betang yang menjadi sentra tenun di desa tersebut bisa menjual produknya dengan mudah.

"Dampak dana desa terhadap kaum perempuan khususnya di ensaid panjang itu sangat-sangat penting. Ada 57 ibu-ibu di sini yang bisa bermanfaat dan merasa terbantu adanya BUMDes, dan bisa menyekolahkan anak-anak kami di sini, bahkan hingga tamat ke perguruan tinggi," ujarnya.

Diakui Lusiah, sebelum adanya BUMDes, para ibu-ibu sangat kesulitan memasarkan kain tenun ikat. Sudah berbulan-bulan dikerjakan hingga selesai, ditambah lagi dengan tidak adanya kepastian pembeli yang datang. Dengan begitu, mereka harus pergi ke kota untuk menjual produk tersebut, seperti ke tempat penjualan oleh-oleh.

"Sebelum dana ini kan harus jual ke Sintang, pakai transport lagi, nunggu banyak dulu biar banyak harganya. Sekarang kan punya satu atau dua saja bisa dijual ke BUMDes. Jadi BUMDes itu menampung dan memasarkannya. Anak-anak perlu jajan misalnya, kita punya 2 syal. Kalau kemarin-kemarin kan nuggu kawan turun, tunggu suami sempat," ujarnya.

Usaha Tenun Ikat Bantu Ibu Pedalaman Sekolahkan Anak sampai SarjanaFoto: Akfa Nasrulhak

Setiap 3 bulan sekali, para pengurus BUMDes selalu melakukan evaluasi dan pembukuan. Hasilnya, dengan peranan BUMDes dalam mengelola usaha kain tenun ikat yang dilakukan oleh para ibu-ibu di Rumah Betang Ensaid Panjang tersebut, mereka bisa menghasilkan omzet hingga Rp 3 juta per bulan.

"Rata-rata di sini dalam sebulan omzetnya bisa mencapai Rp 1,5 juta-Rp 3 juta. Kalau selendangnya bisa 2-4 lembar, kalau syal bisa sampai 30 lembar. Bahkan, sekarang ada kerja sama dengan desainer di Jakarta, 3 bulan sekali saya kirim kain tenun ke sana. Tapi dia maunya warna alami saja," ujarnya.

Lusiah berharap, kain tenun ikat warisan turun temurun ini terus dilestarikan, bahkan bisa dikenal ke dunia internasional. Selain itu, ia berharap bisa membukai galeri yang megah milik sendiri yang bisa menampung semua tenun ikat produksi ibu-ibu desa tersebut.

"Harapannya, mau sukses lah ya, mau dikenal sampai go internasional. Semoga BUMDes ini bisa berkembang bisa bantu ekonomi ibu-ibu di sini. Mudah-mudahan dananya ke depan bisa lebih besar, untuk memperbanyak produksi ibu-ibu," ujarnya.

Untuk mengetahui informasi lainnya dari Kemendes PDTT, klik di sini.






Simak Video "Jalur Asri nan Hijau Kampung Sri Rezeki yang Ternodai Jalanan Rusak"
[Gambas:Video 20detik]
(mul/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com