Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 13 Sep 2019 19:19 WIB

Bisnis Bangkrut, Yohanes Jual Sayuran Demi Sarjanakan Anak

Moch Prima Fauzi - detikFinance
Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom Foto: Moch Prima Fauzi/detikcom
Rote Ndao - Yohanes Malela sudah merasakan jatuh bangun berwirausaha. Pria berusia 54 tahun ini mengaku pernah rugi hingga ratusan juta karena bisnis ayam yang ia geluti bangkrut. Kini ia berharap dari berjualan sayuran bisa mengantarkan anaknya hingga lulus kuliah.

Sekitar pukul 08.00 pagi, Yohanes sudah terlihat sibuk melayani para pembeli di Pasar Busalangga, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kedua tangannya dengan sigap mengambil beberapa sayuran yang sudah dipilih pembeli untuk ditimbang. Ada beberapa buah tomat dan wortel yang ia masukkan ke timbangan. Sayuran itu ia masukkan ke kantong plastik untuk ditukar dengan rupiah dari pembeli. Sembari melayani pembeli, Yohanes bercerita tentang usaha yang ia jalani selama ini.

Yohanes rutin menjajakan dagangannya di Busalangga. Pasar di daerah ini memang ramai dikunjungi oleh masyarakat Rote setiap Rabu dan Sabtu karena tak setiap hari buka. Di dua hari itu, lapangan pun penuh oleh pelapak. Namun sebenarnya, Yohanes tak hanya berjualan di tempat ini. Ia kerap berpindah-pindah pasar dengan hari yang berbeda.


"Ke Pasar Dela, Busalangga, Pasar Oele, Pantai Baru," ujarnya beberapa waktu lalu.

Sebelum berjualan sayuran, Yohanes bercerita pernah menjajal bisnis ayam potong. Ia juga punya bisnis batako, menjual beragam bahan bumbu, sembari menjadi petani padi. Namun bisnisnya itu tumbang satu per satu. Yang paling parah dari usaha ayam potong. Yohanes rugi hingga ratusan juta.

"Ayam habis modal Rp 38 juta tambah kandang Rp 118 juta. Mesin batako saya jual karena tidak ada tenaga lagi. Modalnya Rp 15 juta, jualnya Rp 8,5 juta," tuturnya.

Ia menyadari, keputusannya menjajal beberapa bisnis sekaligus tidak berjalan mulus. Banyak pendapatan yang semestinya ia bisa kumpulkan dibelanjakan untuk keperluan bisnis lainnya.

"Saat bilang ke teman-teman coba saya fokus saja mungkin ini tidak terjadi. Umpamanya jatuhnya karena salah pengeluaran uang belanja barang yang sebenarnya tidak perlu. Salah perhitungan. Saya menyesal tapi ya sudah, jalani apa yang ada," kenangnya.

Sisa uang dari kebangkrutannya, ia gunakan untuk berjualan buah-buahan seperti pisang dan semangka. Ia tak ingin lagi melanjutkan usahanya itu karena terkendala modal.

Dari berjualan buah-buahan, usahanya berkembang hingga bisa menjual sayuran. Kini ia bahkan bisa memiliki dua lapak lainnya. Satu lapak ia gunakan untuk berjualan sembako, sementara satu lapak lainnya ia sewakan kepada orang lain.

"Dari barang mentah ini (sayuran dan sembako) bisa dapat untungnya 50% sampai 80%," kata dia.

Dalam sebulan Yohanes bisa mengantongi omzet hingga Rp 7 juta sampai Rp 8 juta. Penghasilannya itu ia bagi-bagi untuk mencicil pinjaman ke bank, kebutuhan rumah tangga dan biaya pendidikan anaknya.

Ia memiliki anak perempuan yang masih berkuliah di salah satu universitas di Kupang. Anak kedua dari empat bersaudara itu tinggal di Kupang dan setiap bulannya menerima uang saku dari Yohanes lewat transfer bank.


Karena keterbatasan akses dan faktor kenyamanan, Yohanes memilih mentransfer uang melalui agen bank yang sekaligus membuka kios kelontong. Agen bank BRI yang disebut BRILink tersebut memang menjadi andalan bagi warga di Rote Ndao untuk melakukan transfer, simpan, dan tarik tunai.

Yohanes mengatakan lebih nyaman mentransfer uangnya ke agen BRILink karena tak perlu antre seperti di bank.

"Saya kadang kasih tunai ke bank di kios-kios (BRILink) kalau di bank itu antre. Saya langsung setor tunai saja. Biasanya di Mokdale, di Oemilal juga ada. Sering saya ke sana," kata Yohanes.

Ia berharap dengan usahanya berjualan sayuran, bisa menjadikan anaknya sebagai sarjana. Tak banyak tuntutan yang ia bebankan kepada putrinya tersebut. Yohanes hanya ingin anaknya memiliki banyak ilmu.

"Isitlahnya terus terang kita orang bodoh. Orang tua kan sudah bodoh dia orang pintar. Tapi rencana ke depan mau apa itu rencana Tuhan. Memang yang punya cita-cita manusia tapi Tuhan yang menentukan," pungkasnya.

detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com!

Simak Video "Sopi, Minuman Keras dengan Kearifan Lokal Rote"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/hns)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com