Follow detikFinance Follow Linkedin
Minggu, 13 Okt 2019 16:30 WIB

Liputan Khusus Skin Care Lokal

Bagaimana Skin Care Lokal Bertahan dari Gempuran Impor?

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Dok. Ocean Fresh Foto: Dok. Ocean Fresh
Jakarta - Produk perawatan kulit impor kini membanjiri Indonesia. Mulai dari Korea Selatan, Jepang, Amerika Serikat (AS) sampai Eropa mudah ditemui di pasaran.

Namun, kini produk skin care lokal juga mulai bermunculan dengan harga yang lebih murah namun memiliki segudang manfaat.

Lalu, bagaimana caranya skin care lokal ini bertahan dari kepungan produk impor? CEO Ocean Fresh Hamid Muktashim mengungkapkan pasar skin care di Indonesia sangat besar dan potensial.

"Menurut market research dari Marketeers dan beberapa biro survei market dunia mengungkapkan pasar skin care Indonesia hingga 2025 adalah pasar dengan pertumbuhan terbesar di dunia bersama dengan Singapura," kata Hamid kepada detikcom, Minggu (13/10/2019).


Dia mengungkapkan, hal ini menyebabkan semua merk skin care membidik Indonesia sebagai pasar yang empuk untuk sasaran penjualan, sehingga banyak ditemui produk perawatan kulit dari berbagai negara.

"Persaingan sangat ketat, sehingga kita harus melakukan inovasi dan mempertahankan nilai-nilai yang kita yakini untuk memajukan masyarakat, dan berperan aktif menjaga kelestarian alam Indonesia. Dengan memiliki nilai-nilai yang baik, maka konsumen akan semakin menghargai," jelas dia.

Tak kalah dengan produk impor, Ocean Fresh kini menerapkan standar internasional di setiap produknya mulai dari standar keamanan, sertifikasi halal, dan quality control. Selain itu, branding yang prestisius dan tak kalah dengan merek impor adalah cara yang tepat. Kemudian edukasi juga diperlukan agar pembeli tahu jika bahan-bahan alam Indonesia sangat kaya dan khasiatnya tak kalah dari produk impor.

Pendiri Haple, Keishia Lovelyta mengungkapkan saat ini skin care di Indonesia memang sedang booming dan merupakan pasar potensial.

"Makin banyak saingan justru baik untuk memicu kita lebih inovatif dan kreatif juga. Selain itu kita juga makin meningkatkan kualitas produk dan pelayanan," jelas dia.

Kemudian, pendiri Skin Dewi, Dewi Kauw tak pernah menganggap skin care impor sebagai pesaing. Hal tersebut karena produk itu memiliki keunggulan masing-masing. Setiap produk, menurut Dewi memiiki varian berbeda. Kalaupun ada yang mirip, Skin Dewi saat ini memiliki keunikan tersendiri.

"Dalam membangun brand Skin Dewi ini yang saya jual bukan hanya produk skin care saya, namun personal touch sehingga kedekatan antara brand Skin Dewi dengan customer juga membangun trust yang ke depannya menghasilkan loyalitas pelanggan," imbuh dia.


Menurut Dewi saat ini pasar skin care di Indonesia sangat besar. Dia mencontohkan saat gelaran Jakarta X Beauty beberapa bulan lalu, pelaku pasar sangat antusias dengan industri kecantikan saat ini. Apalagi sekarang konsumen lebih bisa menerima dan bangga terhadap produk lokal.

Dia melahirkan Skin Dewi pada 2014 silam. Menurut dia, merek ini merupakan jawaban Dewi dalam mencari nilai kehidupan. Hal ini karena saat Dewi melahirkan anak kedua yang memiliki masalah pada kulitnya.

Saat itu, anaknya diharuskan memakai steroid agar sembuh. Namun Dewi tak ingin anaknya menggunakan steroid untuk jangka panjang. Dewi gelisah, ia tak bisa tinggal diam dan mencari solusi dari masalah tersebut.

"Saya terinspirasi dari berbagai bahan alami yang dijadikan sebagai bahan obat-obatan yang tentunya aman dan sehat dikonsumsi," jelasnya.

Dengan tekad kuat, akhirnya Dewi memutuskan untuk mempelajari tentang perawatan kulit organik di Formula Botanica, School of Natural Sciences UK. Kemudian dia juga memperdalam ilmu dengan mengikuti kelas school of natural skin care pada Robert Tisserand dan ikut pendidikan singkat di Grasse Institute of Perfumery France, Paris.

Direktur Riset CORE Indonesia, Piter Abdullah mengungkapkan ramainya barang impor termasuk skin care ke Indonesia merupakan suatu kewajaran di era perdagangan bebas.


Namun, seharusnya pemerintah sudah siap mengantisipasi sebelum membuka keran impor dengan berbagai perjanjian perdagangan bebas.

"Sayangnya, kebijakan perdagangan bebas tersebut justru berjalan seiring dengan melambatnya industri manufaktur, sehingga yang terjadi banyak produk manufaktur kita kebanjiran produk asing," imbuh dia.

Meskipun begitu, untuk produk kecantikan lokal Indonesia bisa berbangga hati. Karena memiliki merk lokal seperti Mustika Ratu, Martha Tilaar, Viva Cosmetics, sampai Wardah yang mampu bersaing bahkan di pasar regional.

Dia meyakini untuk produk kecantikan masih terbuka peluang untuk produk lokal agar bisa memenangkan kompetisi ini. Menurut dia, yang dibutuhkan adalah inovasi baik dari sisi produk maupun dalam marketing dan penetrasi pasar.

"Mustika Ratu dan Martha Tilaar mampu bersaing dengan membawa keunikan lokal di setiap produknya. Saya kira keunggulan produk ini yang juga harus dicari oleh produk lokal lainnya," jelas dia.

Simak Video "Doyan Traveling, Ini Skin Care yang Wajib Dibawa Shireen Sungkar"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com