googletag.defineSlot('/4905536/detik_desktop/finance/pop_ups', [785, 440], 'div-gpt-ad-1574092191519-0').addService(googletag.pubads());
ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 22 Okt 2019 14:53 WIB

Garap Perjanjian Dagang Dengan 15 Negara, RI Bakal Kebanjiran Impor?

Vadhia Lidyana - detikFinance
Halaman 1 dari 2
Foto: Grandyos Zafna Foto: Grandyos Zafna
Jakarta - Indonesia merupakan negara pencetus perjanjian dagang Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP) saat menjabat sebagai Ketua ASEAN pada tahun 2011. RCEP ini perjanjian dagang antara 10 negara ASEAN dengan 6 negara Asia Pasifik yang memudahkan segala proses perdagangan barang, jasa, dan investasi dari segi tarif, maupun perizinan.

Negara-negara yang tergabung dalam RCEP ini yakni Indonesia, Malaysia, Thailand, Singapura, Filipina, Vietnam, Myanmar, Kamboja, Brunei Darussalalam, Laos, China, Jepang, Korea Selatan, India, Australia, dan Selandia Baru.

Lalu, apakah dengan perdagangan bebas ini Indonesia bakal kebanjiran barang impor?


Menjawab kekhawatiran tersebut, Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional (PPI) Kemendag Iman Pambagyo mengatakan, perdagangan bebas di era saat ini memang tak ada batasnya. Menurut Iman, jika Indonesia menutup diri dari perjanjian dagang atau serangan impor justru akan tertinggal dalam persaingan global.

"Kita harus melihat pasar dunia dan pasar Indonesia itu gak ada batasnya. Apalagi sudah bicara digital ekonomi. Intinya, kalau kita selalu melihat Indonesia itu seperti punya pintu untuk bertahan dari serangan impor, kalau konsepnya begitu Indonesia akan semakin tertinggal. Kita tak akan unggul dalam perdagangan global," terang Iman di kantornya, Jakarta, Selasa (22/10/2019).

Iman menuturkan, masyarakat Indonesia cenderung melihat kebijakan impor sebagai suatu kesalahan. Padahal, kata Iman, RI saja tergabung dalam negara-negara G20 dan diprediksi menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketujuh pada tahun 2030. Iman mengartikan, rasa takut terhadap impor itu tak cocok dengan kondisi persaingan global saat ini.

"Kita cenderung melihat kita sebagai victim, seperti katak dalam tempurung. Padahal kita anggota G20, diprediksi 2030 menjadi ekonomi terbesar ketujuh, 2050 keempat. Tapi sikap kita tuh sikap orang ketakutan. Tapi perundingan ini kan nggak bisa menunggu, pasar itu akan diambil orang kalau kita nggak ambil sekarang. At least kita secure dulu, kalau kemudian ada tantangan itu pasti," papar dia.

(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com