Lipsus Bisnis Boba

Manisnya Bisnis Boba, 3 Ribu Gelas Ludes/Hari

Vadhia Lidyana - detikFinance
Minggu, 27 Okt 2019 12:30 WIB
Foto: istimewa
Jakarta - Saat ini minuman boba sudah tak asing lagi didengar, terutama bagi generasi milenial dan juga generasi Z. Boba atau bubble tea merupakan sebuah topping andalan dalam industri minuman kekinian.

Maraknya bisnis minuman boba di Indonesia juga menjadi salah satu contoh bahwa bisnis boba cukup menjanjikan. Apalagi secara industri, bisnis makanan dan minuman masih merupakan usaha yang menguntungkan.

Pengamat ekonomi dan bisnis Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad heri menjelaskan, pertumbuhan industri makanan dan minuman di Indonesia setiap tahunnya meningkat di atas 7-8%. Sedangkan, untuk industri minuman sendiri, menurut Henri pertumbuhannya bisa lebih tinggi, dengan persentase dua digit.

"Secara keseluruhan bisnis industri makanan dan minuman ini meningkatnya di atas pertumbuhan ekonomi. Kalau pertumbuhan ekonomi kita 5%, bisnis makanan dan minuman secara keseluruhan meningkat di atas 7-8%. Kalau dipilah lagi industri minuman ini terkategori yang pertumbuhannya cukup tinggi, bahkan bisa mungkin dua digit," kata Heri kepada detikcom, Jumat (25/10/2019).


Lalu, bagaimana dengan pertumbuhan bisnis boba ini menurut pemainnya sendiri?

Menjawab hal tersebut, Founder and CEO Kokumi, Jacqueline Karina mengatakan, persentase pertumbuhan bisnis minumannya yang ia geluti sejak tahun 2018 ini cukup signifikan. Bahkan, ia mengungkapkan, pertumbuhannya di atas 1.000%.

"Persentase pertumbuhan bisnis sejak 2018 sampai sekarang di atas 1.000% based on numbers," ungkap Jacqueline kepada detikcom.

Kokumi sendiri kini sudah memiliki 18 gerai yang tersebar di seluruh Indonesia. Selain itu, hingga Desember 2019, Kokumi akan membuka 12 gerai baru, sehingga secara total Kokumi akan memiliki 30 gerai di Indonesia.

Manisnya Bisnis Boba, 3 Ribu Gelas Ludes/HariFoto: Dok. Kamutea

"Ketika memulai itu kami buka outlet di Greenlake. Sekarang sudah 18 outlet yang buka di Jakarta, Bandung, Surabaya, Pontianak, Jogjakarta, dan Solo. Kita akan buka 12 outlet sampai Desember. Jadi akan ada 30 outlet per Desember. Itu sebagian di Jakarta, sebagian di luar Jakarta," imbuhnya.

Jacqueline menuturkan, satu gerai Kokumi dapat menjual 30.000 bahkan hingga 90.000 gelas minuman per bulannya. Jika dihitung per harinya, Kokumi bisa menjual sekitar 1.000-3.000 gelas dari 1 gerai. Sehingga, bisnisnya ini menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik.

"Penjualan kami rata-rata satu gerainya 30.000-90.000 cups per bulan," ujar dia.


Kokumi sendiri menjual minumannya dengan harga yang cukup terjangkau yakni Rp 18.000-35.000. Merek boba asli Indonesia tersebut merupakan salah satu pelaku bisnis yang berani menjual produknya dengan harga yang lebih rendah dibandingkan pesaing-pesaingnya. Jacqueline mengatakan, pihaknya menggunakan bahan baku 70% lokal, sehingga harga produknya bisa terjangkau.

"Rahasianya bahan baku sebenarnya, karena bahan baku kita mostly lokal. Bahan baku sebagian ada yang impor memang, tapi 70% lokal, karena saya susu, boba, semua lokal. Dan memang strategi Kokumi itu pengin ada di mana-mana bukan hanya di mal premium. Jadi semua orang bisa menikmati. Jadi bisa dijangkau semua orang," terang Jacqueline.

Selain Kokumi, salah satu pemain bisnis boba di Indonesia, yakni Kamutea Indonesia juga menunjukkan perkembangan yang cukup pesat. Sejak 2017 hingga saat ini, Kamutea Indonesia sudah membuka 12 gerai yang tersebar di wilayah Jabodetabek, dan hingga akhir tahun ini Kamutea juga akan membuka 17 gerai baru.

"Outlet pertama di AEON di JGC Cakung. Tidak besar konsepnya, itu lebih ke grab and go. Kemudian berkembang cukup bagus, kita buka lagi di beberapa daerah di The Breeze BSD. So far sekarang kita sudah ada 12 outlet. Target sampai akhir tahun ini yang upcoming kita akan buka 17 outlet," jelas General Manager Kamutea Indonesia, Ronald Layandi ketika ditemui detikcom beberapa waktu lalu, di Jakarta.

Ronald mengatakan, saat ini bisnis minuman bobanya tersebut menunjukkan pertumbuhan yang positif. Itulah mengapa Kamutea Indonesia yang merupakan anak usaha dari PT Kamu Boga Jaya itu akan membuka gerai-gerai baru lagi.

"Secara profitable sejauh ini dua tahun berjalan kita masih positif, in general. That's why kita punya ambisi dan target di tahun 2020 membuka lebih banyak outlet lagi. Pasti ada pertimbangan secara profit atau tidak ya pasti masih potensial dan positif," ucap Ronald.

Ronald sendiri sudah bergelut dalam industri food and beverage (FnB) atau makanan dan minuman selama 14 tahun. Ia pun juga memiliki beberapa usaha lainnya, seperti restoran makanan Indonesia, dan restoran makanan Asia. Sejauh ini, menurut Ronald, Kamutea-lah yang paling menguntungkan.

"Kalau nggak menjanjikan pasti kita nggak membuka konsep tersebut. Saya sendiri di dunia FnB bisnis lain ada Indonesian food resto dan asian food resto. Kalau dibandingkan dengan beverage ini, in general pastinya kenapa kita buka lebih banyak secara business perprektif kita melihat pastinya lebih menguntungkan," paparnya.

Manisnya Bisnis Boba, 3 Ribu Gelas Ludes/HariFoto: Dok. Kokumi

Dalam satu bulan, penjualan rata-rata satu gerai Kamutea juga menggiurkan. Ronald mengatakan, dalam satu bulan, satu gerai Kamutea bisa menjual sekitar 10.000 gelas minuman. Namun, untuk gerai-gerai Kamutea di pusat perbelanjaan bisa memperoleh angka penjualan 30-40% lebih tinggi dibandingkan angka tersebut, artinya penjualan gerai Kamutea di pusat perbelanjaan satu bulan sebanyak 13.000-14.000 gelas. Perlu diketahui, Kamutea sendiri menjual produk minuman bobanya dengan harga Rp 33.000-35.000.

"Kita dalam sebulan bisa jual at least sekitar 10.000 cups. Itu outlet untuk yang berada di area perkantoran. Di area mal lebih besar secara quantity-nya, area mal bisa 30-40% lebih banyak dari total tersebut," tutup Ronald.

Simak Video "Takut Gendut? Ini Tips Minum Boba Rendah Gula"
[Gambas:Video 20detik]
(das/das)