Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 13 Nov 2019 14:25 WIB

Wapres Ma'ruf: Zakat Indonesia Rp 8 Triliun, Potensinya Rp 230 T

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi Foto: ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Jakarta - Wakaf dan Zakat merupakan sumber pendanaan yang berbasis syariah. Wakil Presiden Republik Indonesia Ma'ruf Amin mengungkapkan potensi keuangan syariah di Indonesia sangat besar.

Menurut dia, Presiden Joko Widodo sudah menyampaikan jika keuangan syariah di Indonesia harus jadi pusat keuangan syariah dunia.

"Sukuk kita sudah jadi yang terbesar di dunia, tapi perbankan kita belum, pasar modal belum. Kita tak mau Indonesia hanya jadi tukang endorsement halal," kata Ma'ruf dalam acara ISEF di JCC, Rabu (13/11/2019).

Dia mengungkapkan pemerintah ingin mendorong agar industri halal di Indonesia berkembang. Khususnya masalah keuangan syariah.

Karena itu pemerintah ingin mendorong pendanaan sosial seperti zakat dan wakaf. "Zakat kita (di Indonesia) baru 3,5% atau Rp 8 triliun, padahal potensinya Rp 230 triliun. Untuk itu akan kita dorong termasuk bisnis syariah," ujar dia.



Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan pengembangan ekonomi dan keuangan syariah, tidak hanya meningkatkan inklusi ekonomi dan keuangan di Indonesia. Tapi juga mampu sebagai sumber daya duku ekonomi di tengah melamabatnya ekonomi global.

Dalam kesempatan itu, Perry juga menyampaikan beberapa inisiatif yang telah diimplementasikan Bank Indonesia dalam mendorong ekonomi syariah.

Antara lain pengembangan ekosistem rantai nilai halal (halal value chain), penguatan kemandirian ekonomi pesantren, pemanfaatan zakat dan wakaf yang dapat menjadi salah satu sumber pembiayaan dan optimalisasi pembayarannya melalui QR Code Indonesian Standard (QRIS), serta penyusunan kurikulum keuangan syariah dan kampanye halal lifestyle.

Dia juga optimistis ekonomi keuangan syariah masih bisa tumbuh di tengah ekonomi yang sedang melambat. Pasalnya, kata dia masih banyak potensi ekonomi yang bisa dikembangkan untuk meningkatkan ekonomi dan keuangan syariah.

"Sekitar 40% dari ekonomi, maupun penduduk kita belum terkait dengan keuangan dan ekonomi atau inklusi keuangan atau inklusi ekonomi. Itu adalah pasar, itu potensi, itu sumber dari daya dukung ekonomi," ujarnya.

Oleh karena itu, lanjut dia, segmen-segmen yang sebesar 40% itu aja dikembangkan, bersama dengan para stake holder terkait, baik itu dari kalangan pesantren maupun UMKM, dan industri halal lainnya.

"Segmen itu yang menjadi daya dukung ekonomi ke depan dengan daya dukung dan ekonomi keuangan syariah supaya ini menjadi daya dukung ekonomi dalam rangka termasuk antisipasi, memitigasi dampak dari global ekonomi yang sedang turun," jelas dia.



Simak Video "Ssssttt, Ini Loh Bedanya Panitia dengan Amil Zakat"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com