Follow detikFinance Follow Linkedin
Jumat, 15 Nov 2019 08:16 WIB

9 BUMN 'Sakit' Jadi Pasien PPA, Bagaimana Kabarnya Sekarang?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: Hendra Kusuma-detikFinance Foto: Hendra Kusuma-detikFinance
Bandung - Sebanyak sembilan BUMN dicap sebagai perusahaan yang 'sakit'. Untuk menyehatkannya kembali, sembilan perusahaan ini menjadi pasien untuk ditangani PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA).

PT PPA sendiri memberikan penanganan lewat suntikan modal kepada perusahaan-perusahaan ini. Selain memberikan suntikan modal mereka juga melakukan pendampingan usaha untuk menyehatkan pasiennya.

Sembilan perusahaannya sendiri adalah PT Merpati Nusantara Airline (MNA), PT Survai Udara Penas, PT Industri Gelas, PT Kertas Kraft Aceh, PT Industri Sandang Nusantara, PT Kertas Leces, PT Dirgantara Indonesia, PT PAL Indonesia, dan PT Industri Kapal Indonesia.

Direktur Konstruksi Bisnis dan Manajemen Aset Dikdik Permadi menyatakan dari sembilan perusahaan tersebut, PT Kertas Leces gagal untuk diselamatkan. Perusahaan ini sudah dinyatakan pailit, dan kini sedang menunggu likuidasi aset.

"Pertama paling cepat Leces, bukan cepat lagi itu udah pailit tinggal lelang kurator untuk likuidasi asetnya. Nanti dibagikan ke kreditur," ucap Dikdik saat berbincang bersama wartawan di Bandung, Kamis (14/11/2019).

Selanjutnya, yang progressnya bagus menurut Dikdik adalah Merpati. Meskipun suntikan modal dari investor belum masuk, perusahaan ini sudah mulai beroperasi kembali dari 'mati suri'.

"Selanjutnya Merpati kita ini sudah optimalkan asetnya mereka, kami lakukan pendampingan untuk kerja sama kargo ke timur dengan 10 BUMN," ucap Dikdik.

Dikdik melanjutkan, PT Industri Gelas pun sudah lumayan maju progress penyehatannya. BUMN ini akan segera merambah industri fiberglass dengan bekerja sama dengan Perusahaan Gas Negara (PGN).

"Kalau terkait Iglas (Industri Gelas) kita sedang mulai kajian untuk coba melakukan support pembuatan pipa-pipa fiberglass. Saat ini kita kajian dengan PGN, mereka butuh pipa fiberglass. Nanti kita akan mulai dari situ, selama ini kan mereka setop operasi juga," ucap Dikdik.


Dikdik juga memaparkan, Industri Sandang Nusantara akan mengubah pola bisnisnya. Sebelumnya, perusahaan ini fokus ke industri hulu tekstil dengan pemintalan benang. Kini, bisnis akan berubah mengurus industri hilir garmen.

"ISN (Industri Sandang Nusantara) fokusnya nggak ke hulu lagi dia akan training untuk mengurusi industri garmen sekarang fokusnya. Mereka juga baru saja lelang aset di Bali, dari hasil itu bisa selesaikan kewajiban kepada kreditur, sisa asetnya ada sembilan pabrik pemintalan," ungkap Dikdik.

Direktur utama PT PPA Iman Rachman mengatakan bahwa sisa pasiennya masih berjalan usahanya sampai kini. Dengan suntikan modal dan pendampingan usaha yang dilakukan pihaknya, perusahaan-perusahaan sakit ini hanya tinggal menunggu untung saja usahanya dan menjadi sehat kembali.

"Kalau bicara sehat, sembilan itu kan mereka ada yang tetap berjalan operasional. Sekarang tinggal nunggu turn around dari rugi ke untung. Saya tambahkan ini lima lainnya jalan dan tinggal nunggu turn around saja ke keuntungan," ucap Iman.


Iman menambahkan bahwa pihaknya pun bukan hanya memberikan suntikan dana dan pendampingan saja. Beberapa BUMN sudah ditarik jadi anak usaha PPA, perusahaan itu adalah Waskita Karya dan Nindya Karya.

"Selain kami berikan financial consulting, pendanaan dan pendampingan, beberapa juga kami tarik jadi anak usaha. Waskita contohnya yang sekarang bukan sehat lagi tapi sangat maju sudah keluar lewat IPO, ini sisa Nindya Karya targetnya 2022 akan keluar," ungkap Iman.



Simak Video "Hadiri HUT NSI, Kemen PPPA dan Kemenag Bawa Pesan Persatuan"
[Gambas:Video 20detik]
(ang/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com