Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 20 Nov 2019 14:14 WIB

RI Ekspor Udang hingga Cokelat ke 6 Negara Asia

Noval Dhwinuari Antony - detikFinance
Foto: Pelepasan Ekspor dari Kapal Peti Kemas Makassar (Noval Dhwinuari Antony /detikcom) Foto: Pelepasan Ekspor dari Kapal Peti Kemas Makassar (Noval Dhwinuari Antony /detikcom)
Makassa - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah bersama mederi Perdagangan Agus Suparmanto melepas ekspor 500 teus peti kemas berisi 18 komoditas dari Makassar ke Asia. Di antara komoditas tersebut seperti udang hingga kacang mete.

"Ada rumput laut, udang, cokelat, mede, dan beberapa komoditas yang lainnya. Ini kalau tidak salah 500 teus (yang dikirim)," ujar Nurdin di acara Pelepasan direct call Makassar ke Asia ini dilakukan di Pelabuhan Peti Kemas, Makassar, Selasa (20/11/2019).

Adapun 18 Komoditi tersebut terdiri dari marble, karagenan, mete kupas, Cashew shell cake, cashewnut hull, cocoa cake, coconut dan coffee, frozen fish, frozen shrimp, fero nickel, fine wheat bran, grill flying fish, oleo pine resine, pepper, plywood dan seaweed. Dengan volume 7.930,51 ton senilai US$ 19,75 juta. Komoditas itu diekspor ke sejumlah negara Asia seperti Jepang, China, Hong Kong, Vietnam, Korea, dan Taiwan.


Nurdin mengatakan pihaknya akan terus meningkatkan ekspor berbagai bahan baku hingga barang dari Sulsel. Untuk itu Pemprov Sulsel akan melakukan evaluasi semua aturan seperti peraturan Walikota, peraturan Bupati dan peraturan Gubernur yang menjadi penghambat investasi.

"Kita akan mengevaluasi semua yang menghambat investasi, karena saya kira sangat jelas arahan bapak presiden tema utamanya adalah ciptakan lapangan kerja dan mendorong SDM yang unggul," paparnya.

"Kita harus bekerja berkolaborasi, kita harus bersinergi dan ini sudah dilakukan di Pelindo. Alhamdulillah saya kira ke depan ini terus harus kita jaga, kita harus dijaga dengan baik dan kita terus melakukan koreksi-koreksi apa yang menjadi hambatan-hambatan ekspor," tuturnya.

Pemprov Sulsel juga terus meminimalisir keluhan para eksportir. Setiap 3 bulan Pemprov Sulsel melakukan pertemuan dengan para eksportir untuk mendengarkan berbagai keluhan yang menghambat ekspor.

"Ternyata dari hari ke hari terus menurun (keluhannya). Nah inovasi Pelindo menyatukan semua izin-izin ekspor itu luar biasa. Itu menurunkan dwelling time kita bisa lebih cepat. Dan bukti bahwa Pelindo IV ini yang tadinya kita bergantung pada Surabaya dan Jakarta sekarang kita dari Surabaya juga sudah banyak masuk ke kita, jadi ini tanda bagus," ujarnya.


Dikatakan Nurdin, di antara keluhan yang paling sering dikemukakan para eksportir ialah soal karantina barang.

"Tapi karantina kan kita sudah punya inovasi, jadi bukan lagi menunggu sampel tapi menjemput. Sekarang karantina itu menjemput sampel, dan izin-izin ekspor semua sudah satu pintu, tidak perlu harus ke sini, harus ke sini. Dan saya kira tidak ada lagi keluhan ada pungutan dan macam-macam, nggak ada lagi," ucapnya.

Eksportir yang terlibat pada pengiriman tersebut seperti PT. Comextra Majora, PT. Biota Laut Ganggang, PT. Karbon Tionin Semesta, PT. Tri Mustika Cocominaesa, PT. Toarco Jaya, PT. Parlevliet Paraba Seafood, PT. Usaha Central Jaya Sakti, PT. Dwira Masagena, UD. Anugerah Bintang Cemerlang, PT. Bogatama Marinusa.

Ada juga PT. Marine Products, PT. South Suco, PT. Huadi Nickel, P Eastern Pearl Flour Mills, CV. Sakura Prima, PT. IStana Palapa Kertas, PT. Adimitra Pinus Utama, CV. Anugerah Lestari, CV. Anugerah Sejahtera, PT. Panca Usaha Palopo, PT. Mega Citra Karya, PT. Asia Mina Sejahtera, PT. Sutraco Nusantara Megah, CV. Guna Bahari Indonesia, UD. Rahmat Bahari, dan PT. Sumber Guna.

Simak Video "Tol Layang Jakarta-Cikampek Bisa Dipakai Mulai 20 Desember 2019"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com