Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 04 Des 2019 18:58 WIB

Laporan dari Busan

Cara Pemerintah Jualan Produk RI di Korsel

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: Agus Suparmanto (Andhika/detikcom) Foto: Agus Suparmanto (Andhika/detikcom)
Busan - Indonesia merupakan salah satu negara besar yang memiliki berbagai macam sumber daya alam yang bisa diekspor. Ekspor menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari pertumbuhan ekonomi sampai hubungan dengan negara mitra dagang.

Pekan lalu, Indonesia telah melakukan deklarasi bersama (Indonesia-Korea Comprehensif Economic Partnership Agreement/IK CEPA). Korea Selatan adalah negara yang memiliki hubungan dekat dengan Indonesia di sektor perdagangan

Karena itu, Menteri perdagangan Agus Suparmanto menjelaskan dengan deklarasi kedua negara diharapkan akses pasar ekspor dan impor bisa terbuka lebar. "Perjanjian ini tidak hanya untuk pasar saja, tetapi juga salah satu jembatan untuk menarik investasi juga ke Indonesia," kata Agus saat berbincang dengan detikcom pekan lalu di Busan, Korea Selatan.

IK CEPA ini juga merupakan jalan untuk mencocokkan apa saja yang dibutuhkan dari kedua negara. Jika sudah menemukan kecocokan maka bisa diprospek peluang dan tantangan apa saja yang akan dihadapi. Kemudian bagaimana strategi untuk mencapai hal tersebut.


Dia menjelaskan, contoh nyata adalah Hyundai yang sudah menanamkan modal dengan membangun pabrik di Indonesia. Dengan terbukanya jalan untuk pasar antara Indonesia dan Korea Selatan ini juga bisa menciptakan lapangan pekerjaan yang berorientasi ekspor sesuai dengan arahan dari Presiden Joko Widodo.

Agus menyebut, saat ini deklarasi bersama sudah dilakukan. Maka tinggal menunggu waktu ditandatangani pada tahun depan dan dijabarkan secara detail pelaksanaanya. "Sekarang kedua negara akan mengumpulkan poin-poin seperti tarif dan detail pelaksanaan perjanjian terkait kerja sama spesial antara Indonesia dan Korea Selatan," imbuh dia.

Yang dibidik Indonesia di Korea Selatan adalah olahan kayu, ikan tuna, produk baja sampai produk kimia. Komoditas tersebut merupakan yang paling potensial untuk dijajaki dan dimasuki oleh Indonesia.

Selain itu, kerja sama Indonesia dan Korea Selatan juga akan menjadi lebih erat karena nantinya akan ada perusahaan-perusahaan yang masuk untuk berinvestasi. "Nanti ada perusahaan yang mau ikut proses pembangunan Ibu Kota Baru. Banyak yang mau masuk dan ikutan, inikan tren positif juga untuk investasi," ujarnya.


Korea Selatan juga merupakan investor ketiga terbesar di Indonesia. Korsel berinvestasi di industri dasar seperti besi dan baja, petrokimia sampai aluminium. Selain itu, Korsel merupakan salah satu dari 5 ekonomi peringkat teratas di kawasan ini. Dengan produk domestik bruto (PDB) US$ 31.350 per kapita per tahun pada 2018 dan memiliki perekonomian serta lingkungan politik yang stabil.

Pada Trade Expo Indonesia tahun lalu, Korsel menjadi pembeli tetap. Saat itu ada 85 delegasi bisnis Korsel yang mengunjungi acara tersebut dan transaksi yang berhasil dikantongi adalah US$ 34,9 juta dengan produk makanan olahan, produk agro, kulit, kopi, alas kaki, perhiasan, mebel, minyak esensial dan kerajinan tangan.





Simak Video "Agus Suparmanto Menghadap Jokowi di Istana"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com