Pasokan Gas Jadi Tantangan, Ini Strategi Pupuk Indonesia

Ardan Adhi Chandra - detikFinance
Kamis, 12 Des 2019 11:25 WIB
Foto: Rachman Haryanto
Jakarta - PT Pupuk Indonesia (Persero) menjalankan strategi dalam rangka mengantisipasi persoalan pasokan gas di industri pupuk dan petrokimia. Strategi tersebut di antaranya melalui revitalisasi pabrik tua hingga optimalisasi penggunaan gas untuk bahan baku.

Kepala Komunikasi Korporat Pupuk Indonesia, Wijaya Laksana mengatakan langkah tersebut sejauh ini cukup efektif dalam mengurangi konsumsi gas pabrik-pabrik pupuk milik anak perusahaannya.

"Jadi revitalisasi pabrik ini selain menambah kapasitas, bertujuan juga untuk mengganti pabrik-pabrik tua yang sudah boros konsumsi bahan bakarnya dengan pabrik baru yang jauh lebih efisien. Contohnya, ada pabrik yang sudah tua dengan rata-rata konsumsi gas mencapai 40 MMBTU, kami ganti dengan pabrik baru yang konsumsi gas nya hanya 26 MMBTU, itu sudah penghematan yang cukup signifikan," kata Wijaya, Jakarta, Kamis (12/12/2019).

Selain itu, sambung Wijaya, pihaknya juga dapat menghemat konsumsi gas melalui optimalisasi pemakaian gas yang difokusnya hanya sebagai bahan baku. Sebelumnya gas tidak hanya untuk bahan baku produksi pupuk, tapi juga sebagai sumber energi utilitas pabrik seperti listrik, steamed, hingga uap.

"Kini utility-nya kita ganti dengan batu bara, sementara gas kami maksimalkan sebagai bahan baku," ujar Wijaya.

Sebelumnya, pasokan gas menjadi ancaman bagi operasional pabrik pupuk.

Direktur Utama PT Pupuk Indonesia Aas Asikin Idat dalam rapat dengar pendapat (RDP) di komisi VII DPR RI menjelaskan hal ini terjadi karena mayoritas kontrak gas pada entitas anak akan berakhir pada 2021-2022 dan belum mendapat kontrak selanjutnya.

"Industri pupuk itu memerlukan pasokan gas dalam jangka panjang. Ini 2-3 tahun, jadi kami harapkan bisa jangka panjang," kata dia di Komisi VII DPR RI, Jakarta, Kamis (5/12/2019).

Simak Video "Pupuk Tanaman dari Air Seni, Indramayu"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/fdl)