Tekor Neraca Dagang Bikin Jokowi Geram, Airlangga Siapkan 7 Jurus

Danang Sugianto - detikFinance
Selasa, 17 Des 2019 12:56 WIB
Foto: Andhika Prasetya/detikcom
Jakarta - Neraca perdagangan masih dalam keadaan defisit. Pada November 2019 neraca dagang tekor US$ 1,33 miliar. Angka tersebut berasal dari ekspor November 2019 sebesar US$ 14,01 miliar dan impor sebesar US$ 15,34 miliar. Presiden Jokowi pun kembali geram mendengarnya.

Pemerintah pun masih putar otak agar neraca dagang terus surplus. Salah satu yang dilakukan dengan transformasi ekonomi.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, transformasi ekonomi bertujuan meningkatkan produk ekspor dan mendorong industri substitusi impor. Setidaknya ada 7 program jangka pendek yang telah disiapkan.

"Pertama implementasi B30 pada 2020. Penghematan devisa bisa mencapai US$ 4,8 miliar," ujarnya dalam acara Perayaan HUT AEI di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (17/12/2019).


Kedua, gasifikasi batubara. Dengan mengembangkan produksi gas melalui batubara diperkirakan bisa menghemat impor gas sebesar 1,08 juta ton per tahun. Angka itu setara dengan penghematan Rp 9 triliun pertahun.

Pemerintah juga akan mempercepat pembangunan pabrik gasifikasi batubara dengan kapasitas 1,8 juta ton per tahun.

"Ketiga ada penguatan TPPI (Trans Pacific Petrochemical Indotama). TPPI akan direstrukturisasi. Hilirisasi akan dilanjutkan," tambahnya.


Keempat, pembangunan smelter (pabrik pemurnian) untuk hilirisasi produk tambang. Kelimat green refinery di Plaju, Sumatera Selatan. Pertamina tengah mengembangkan greenfuel yang berbasis minyak sawit di beberapa kilang Pertamina terutama di Plaju.

Keenam, kebijakan bea masuk tindakan pengamanan sementara. Kebijakan ini dilakukan untuk melindungi produk dalam negeri dari masuknya produk impor. Terakhir percepatan perjanjian perdagangan internasional seperti RCEP, I-EU CEPA, GSP, BIA Taiwan.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) jengkel lantaran Indonesia selalu mengalami defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) dan defisit neraca perdagangan. Dia menilai kondisi tersebut disebabkan Indonesia yang doyan impor.

"Kita ini berpuluh tahun memiliki masalah besar yang namanya defisit transaksi berjalan, defisit neraca perdagangan gara-gara impor kita lebih besar dari ekspor kita. Dikit-dikit ngimpor, dikit-dikit ngimpor," kata Jokowi di Istana Negara, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2019).

Simak Video "Impor Migas Tinggi, Jokowi Sentil Jonan dan Rini"
[Gambas:Video 20detik]
(das/zlf)