Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 27 Jan 2020 17:29 WIB

Gawat! Virus Corona Bisa Ancam Ekonomi Global

Anisa Indraini - detikFinance
Virus corona yang menyebar di wilayah Wuhan, China, membuat sejumlah warganya terjangkit dan harus dievakuasi ke rumah sakit. Tim medis pun bantu evakuasi warga Ilustrasi/Foto: Chinatopix via AP Photo
Jakarta -

Wabah virus corona bisa menjadi ancaman ekonomi bagi negara Tirai Bambu. Dampaknya juga bisa meluas jika virus tersebut menyebar.

Dilansir Bizjournals.com, Senin (27/1/2020), pasar keuangan Asia anjlok pada Kamis (23/1/2020) lalu yang disebabkan oleh penurunan tajam saham di China karena dampak dari virus corona.

Ketakutan semakin meningkat dalam dua hari belakangan. Pemerintah China mengambil tindakan untuk mengisolasi Wuhan, kota tempat sumber virus. Hal ini untuk mencegah korban jatuh lebih banyak.

Virus corona telah membuat ketidakpastian di China. Terlebih penyebaran virus bertepatan dengan liburan Tahun Baru Imlek yang biasanya meningkatkan jumlah perjalanan, belanja, dan pembelian hadiah.

Stasiun kereta api dan bandara juga sepi karena penumpang langsung mengubah rencana perjalanan meskipun ada libur selama sepekan.

Apakah virus corona sama menakutkannya seperti SARS yang menewaskan 800 orang pada 2003?

Masalah yang paling krusial sebenarnya adalah bagaimana nasib ekonomi di negeri Panda ini. Sebelum ada virus corona, ekonomi China bertahun-tahun jadi salah satu mesin pertumbuhan paling kuat di dunia. Ancaman virus ini bisa membuat pekerjaan dan pertumbuhan ekonomi terhambat.

Pertumbuhan China pada tahun 2003 anjlok selama puncak epidemi SARS. Namun pulih kembali ketika perusahaan-perusahaan membangun pabrik di China dan kinerja ekspor menanjak.

Kini, Ekonomi China memang sudah tumbuh lebih besar dibanding 2003, tapi saat ini China sedang mengalami perlambatan pertumbuhan paling buruk dalam tiga dekade terakhir. Perang dagang dengan Amerika Serikat (AS) menjadi pemicunya dan desakan agar pemerintah melepas ketergantungan perusahaan pada utang.

Untuk saat ini, dampaknya belum begitu terasa. Pihak berwenang tampaknya merespons lebih cepat terhadap wabah ini daripada yang terjadi pada tahun 2003. Jika dihitung dari jumlah korban, virus corona saat ini belum begitu mematikan dibandingkan SARS, tetapi sulit dideteksi.

"Ini akan tergantung pada bagaimana China terus transparan dengan pihak internasional," kata Peter Levesque, Managing Director Modern Terminal, operator pelabuhan di Hong Kong.

Pada tahun 2003, sektor yang paling terpukul adalah transportasi, ritel dan restoran. Sebenarnya, Wuhan sangat penting untuk perdagangan di China. Kota ini adalah pusat transportasi dan telah menjadi pusat pembuatan mobil untuk General Motors, Honda, dan lainnya, serta puluhan pembuat suku cadang mobil. Efek dari wabah ini terhadap negara lain menjadi hal yang tak kalah penting.

China telah mendorong konsumsi lebih banyak yang serupa dengan AS, sehingga ekonominya tidak hanya bergantung pada proyek-proyek konstruksi dan infrastruktur besar yang sering menerima pembiayaan pemerintah. Tapi perubahan itu membuat China lebih rentan terhadap peristiwa yang membuat masyarakat menahan belanja.



Simak Video "MUI: Salat Jumat Saja Boleh di Rumah, Apalagi Salat Id yang Sunnah"
[Gambas:Video 20detik]
(ara/ara)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com