Nilai Perdagangan RI-AS Ditargetkan Naik Jadi US$ 60 Miliar di 2024

Nurcholis Ma - detikFinance
Selasa, 18 Feb 2020 19:17 WIB
Kemendag
Foto: Kemendag
Jakarta -

Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menegaskan akan terus mendorong peningkatan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS) sebagai 'strategic partner' dan pasar ekspor utama Indonesia. Ke depan Indonesia-AS menargetkan peningkatan perdagangan menjadi dua kali lipat sehingga menjadi US$ 60 miliar pada 2024.

"Potensi perdagangan kedua negara masih banyak yang dapat dikembangkan. Perdagangan baik barang maupun jasa kedua negara dapat terus ditumbuhkan ekspornya sehingga dapat mengurangi defisit AS dan meningkatkan ekspor Indonesia," kata Agus dalam keterangan tertulis, Selasa (18/2/2020).

Hal ini disampaikannya dalam pertemuan dengan CEOs industri AS pada dialog strategi ekonomi di Washington DC, AS Rabu (13/2/2020). Dalam kesempatan itu, Agus menyampaikan, berbagai isu yang menjadi hambatan akses pasar AS ke Indonesia sebagaimana dituangkan dalam GSP Country Practice Review 2018 telah diselesaikan Kementerian Perdagangan bersama kementerian/lembaga terkait. Di antaranya Kemenko Perekonomian, Kementerian Pertanian, Kementerian Luar Negeri, OJK, dan BI sejak tahun 2018. Hal ini termasuk dua isu yang masih tersisa yaitu reasuransi dan izin impor produk hortikultura.

"Dalam menjaga pasar ekspor ke AS, penting bagi Indonesia untuk mempertahankan Generalized System of Preference (GSP) AS. Fasilitas GSP yang diberikan AS dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar AS. Selain itu, GSP juga bermanfaat bagi industri AS untuk mendorong ekspornya ke pasar global. Dengan membeli bahan baku dari Indonesia yang berkualitas dan harganya bersaing, produk ekspor AS dapat menjadi lebih competitive di pasar dunia," imbuhnya.

Indonesia, lanjut Agus, akan membeli lebih banyak produk asal AS untuk memenuhi kebutuhan bahan baku/penolong bagi industri dalam negeri. Di antaranya produk kapas (untuk industri TPT), kedelai (untuk industri tahu/tempe/mamin), jagung, (untuk industri pakan ternak), gandum (untuk industri makanan), dan hortikultura (untuk industri buah kaleng).

Selain itu, Indonesia juga akan menawarkan produk-produk yang lebih kompetitif ke pasar AS seperti travel bags, perikanan, buah-buahan, perhiasan, TPT, besi baja, elektronik. Agus mengklaim telah menyelesaikan dua isu akses pasar AS yang masih tersisa untuk mempertahankan GSP AS.

Agus menambahkan, untuk menjaga hubungan perdagangan dan investasi dengan AS sejalan dengan arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kemendag akan fokus pada deregulasi atau penyederhanaan perizinan dan reformasi birokrasi, serta transformasi ekonomi termasuk penguatan SDM dan pembangunan infrastruktur. Intinya untuk menumbuhkan perdagangan dan investasi serta menciptakan lapangan kerja.

Untuk meningkatkan akses pasar, lanjut Agus, Kemendag juga segera menyelesaikan perundingan yang masih berjalan dengan beberapa negara mitra. Antara lain Uni Eropa, Turki, Pakistan, Tunisia, Bangladesh, Maroko, dan yang paling penting dengan 16 negara yang tergabung dalam Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional.

Sebagai informasi, pada 2019 total perdagangan barang Indonesia-AS mencapai US$ 26,97 miliar. Pada periode tersebut ekspor Indonesia ke AS sebesar US$ 17,72 miliar dan impor Indonesia dari AS tercatat sebesar US$ 9,26 miliar. Dengan demikian, Indonesia mengalami surplus perdagangan sebesar US$ 8,46 miliar.

Produk ekspor utama Indonesia ke AS adalah udang, karet alam, alas kaki, pakaian jadi, dan ban. Sementara, impor utama Indonesia dari AS adalah kedelai, kapas, tepung, suku cadang pesawat, dan gandum. Sementara, total nilai investasi AS di Indonesia pada 2019 tercatat sebesar US$ 989,3 juta. Beberapa sektor investasi AS terdiri dari 788 proyek di sektor pertambangan; industri listrik, gas dan air; serta industri jasa.

Nilai Perdagangan RI-AS Ditargetkan Naik Jadi US$ 60 Miliar di 2024


Simak Video "Perdagangan Luar Negeri China Dihantam Pandemi Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(akn/hns)