Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 16 Mar 2020 17:41 WIB

Corona Bisa Bikin Utang Korporasi Bengkak hingga Memicu Resesi

Aulia Damayanti - detikFinance
Dampak Corona ke Ekonomi Foto: Dampak Corona ke Ekonomi (Tim Infografis Fuad Hasim)
Jakarta -

International Monetary Fund, dalam laporan stabilitas keuangannya menyampaikan peringatan dini adanya risiko pembengkakan utang korporasi yang bisa mendorong terjadinya resesi global.

Hasil kajian IMF terhadap sejumlah perusahaan besar yang tersebar di sejumlah negara, diketahui mereke memiliki utang yang bila diakumulasi mencapau US$ 19 triliun.

Korporasi yang dimaksud tersebar di Cina, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Prancis, Spanyol, Italia, dan Jerman. Mereka berada dalam risiko gagal bayar akibat virus corona.

Utang tersebut berisiko semakin meningkat disebabkan rendahnya suku bunga yang diterapkan bank sentral seperti yang diterapkan The Federal Resever. Lembaga ini memangkas suku bunga beberapa kali di tahun ini.

Hal senada diterapkan Eropa Central Bank (ECB) yang juga terus mempertahankan suku bunga negatif dan memperkenalkan paket stimulus besar-besaran.

Rendahnya bunga bank itu mendesak korporasi yang telah menerbitkan surat utang bakal dibuat repot. Karena, mereka harus mengumpulkan dana lebih besar untuk menutup selisih bunga yang diberikan bank dengan bunga obligasi yang telah mereka terbitkan. Hal itu jelas dapat memicu penurunan pasar keuangan dan menambah gejolak ekonomi.

Sebagai contoh, ETDR Obligasi Hasil Tinggi SPDR Bloomberg Barclays (JNK) turun lebih dari 6% minggu ini, sedangkan ETF iShares iBoxx Obligasi Korporasi Tingkat Investasi turun lebih dari 8%. Bank of America menunjukan volatilitas telah meroket dan arus dana obligasi yang keluar perusahaan berada pada rekor tertinggi.

Investor menjadi semakin cemas akibat utang perusahaan yang diakibatkan banyak saham yang dijual dan harga minyak turun. Kemampuan untuk membeli atau menjual sekuritas di pasar utang korporasi menjadi jauh lebih suliit.

Melansir dari CNN, Morgan Stanley mengatakan kecemasan mengakibatkan investor menjual saham mereka. Ada investor yang menjual saham di dua perusahaan yang diduga akan gagal bayar pada tahun depan, yakni Chesapeake Energy (CHK) dan Whiting Petroleum Corporation (WLL). Saham Chesapeake turun menjadi 15 sen, sementara saham Whiting ditutup pada 75 sen.

Selain itu menurut Morgan stanley, banyak perusahaan yang mengeluarkan kebijakan untuk berutang. Diperkirakan 67% dari utang pada tingkat investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan energi diberi peringkat BBB, dibandingkan dengan keseluruhan sebesar 50%,. Dan utang energi berperingkat BBB $ 34 miliar sudah berada di pengawasan kredit negatif.

International Monetary Fund mencatat, jika situasinya semakin memburuk, akan banyak perusahaan mengambil tindakan untuk membayar utang mereka. Mungkin ada gelombang PHK, dan investasi bisnis yang anjlok. Wanprestasi juga akan menghantam bank dan dapat menyebabkan kurangnya pinjaman.

Virus corona akan memperburuk resesi global. Harapannya jika dunia mangalami resesi, kemungkinan akan mempertajam ekonomi perusahaan atau bahkan memperburuk. Ekonomi global dapat bangkit kembali setelah ancaman virus corona surut.



Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com