Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 30 Mar 2020 11:26 WIB

Uni Eropa Mulai Retak Gara-gara Corona

Soraya Novika - detikFinance
Insert Brexit Inggris Cerai Uni Eropa Foto: Ilustrator Zaki Alfarabi
Jakarta -

Saat ini, Uni Eropa (UE) tengah dihadapi perpecahan yang cukup serius di tengah pandemi virus corona (COVID-19). Alasannya para pimpinan di sana tengah kewalahan dalam mengeluarkan kebijakan untuk mengatasi dampak ekonomi yang muncul akibat wabah itu.

Sebelumnya, UE telah mencoba mengeluarkan dua kebijakan untuk mendukung negara-negara anggota yang paling terkena dampak dari wabah tersebut seperti Italia dan Spanyol. Akan tetapi, pada akhirnya kedua kebijakan tersebut gugur karena tak mendapat kata sepakat dari seluruh negara anggota.

Sebagian negara anggota UE ingin kebijakan yang dikeluarkan kelak fokus pada penyelamatan dunia usaha dan para pekerja atau masyarakat yang terkena dampak wabah ini. Meski semuanya cukup paham bahwa kebijakan tersebut berisiko memunculkan resesi ekonomi yang mendalam buat Benua Biru tersebut.

Akan tetapi, 9 dari 19 negara anggota Uni Eropa termasuk Italia dan Prancis menginginkan stimulus yang lebih luas lagi dari kebijakan tersebut. Mereka ingin UE bisa menerbitkan surat utang seperti obligasi corona. Dengan demikian, kebijakan tersebut mampu memulihkan ekonomi seluruh negara anggota secara jangka panjang dan memudahkan mereka untuk segera bangkit dari pandemi tersebut.

"Instrumen kebijakan seperti itu cukup kuat, karena kita semua menghadapi goncangan eksternal secara simetris, yaitu tidak ada negara yang memikul tanggung jawab tetapi konsekuensi negatifnya ditanggung oleh semua," ujar para pimpinan sembilan negara UE termasuk Presiden Prancis Emmanuel Macron dalam sebuah rilis resmi yang dikutip dari CNN, Senin (30/3/2020).

Di sisi lain, argumen itu ditolak mentah-mentah oleh Kanselir Jerman Angela Merkel yang didukung oleh para pimpinan Austria dan Belanda. Mereka telah lama menentang penerbitan surat utang di tingkat UE karena khawatir hal itu akan turut merembet pada kewajiban menanggung pembayaran pajak negara-negara anggota lain yang tegolong berpendapatan kecil.

"Beberapa anggota mengusulkan obligasi corona. Kami menyampaikan bahwa itu bukan pendapat semua negara. Saya lebih memilih mekanisme stabilisasi Eropa (ESM)," kata Merkel.

ESM merupakan dana talangan untuk membantu negara-negara anggota yang sudah dibentuk sejak krisis utang UE pada 8 tahun lalu. Menurut Merkel, kebijakan yang paling tepat diambil UE saat ini adalah menyiapkan dana US$ 454 miliar atau senilai Rp 7.264 triliun (kurs Rp 16.000/US$) yang tersisa di ESM dan dibagikan kepada negara-negara paling terdampak.

Ketidaksepakatan soal obligasi corona itu menambah daftar perselisihan internal UE sejak Covid-19 melanda. Roma dan sejumlah anggota UE di Eropa Timur merasa UE tidak serius memberi dalam menanggulangi wabah itu.

Roma marah saat Paris dan Berlin mencegat ekspor alat bantu pernapasan dan sejumlah peralatan medis yang akan dikirim ke Italia. Belakangan, Paris menyatakan persoalan itu dipicu kesalahpahaman. Solidaritas UE benar-benar diuji saat ini.

Sebaliknya, negara lain di luar UE seperti China dan Rusia justru giat mengirimkan bantuan kepada anggota-anggota UE. Aneka peralatan kesehatan dan sejumlah tenaga medis dikirimkan ke berbagai anggota UE.



Simak Video "Pasien Corona di Mamuju Kabur: Dijemput Petugas, Dilawan Keluarga!"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com