Lara Pekerja Informal di Tengah WFH dan Corona

Soraya Novika - detikFinance
Senin, 30 Mar 2020 20:30 WIB
Tarif baru batas bawah dan batas atas ojek online telah berlaku sejak Senin (2/9/2019). Tarif diatur berdasarkan zonasi.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Saat ini sudah mulai banyak instansi pemerintah maupun swasta yang menerapkan work from home (WFH) atau kerja dari rumah. Meski begitu, masih ada juga pekerja kelas bawah dari sektor informal yang bekerja di lapangan dengan pendapatan harian.

Akan tetapi, semenjak banyak sektor lainnya memberlakukan WFH, pekerja kelas bawah ini merasa sengsara. Ada yang sepi pesanan bahkan sama sekali kehilangan pendapatan karena minimnya aktivitas masyarakat sejak WFH imbas virus corona.

Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Abra P.G Talattov bilang memang pekerja kelas bawah ini yang pastinya paling terpukul karena imbauan tersebut.

"Kalau kita melihat struktur ketenagakerjaan kita kan ada sekitar 70 juta orang yang bekerja di sektor informal, atau sekitar 55% pekerja kita informal. Artinya memang sektor informal inilah yang menjadi sektor yang sangat terpukul karena kebijakan social distancing atau work from home," ujar Abra kepada detikcom, Senin (30/3/2020).

Lalu, apa yang sebaiknya dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan para pekerja tersebut? Menurut Abra, seharusnya sejak awal pemerintah mengeluarkan imbauan WFH, pemerintah bisa menyiapkan kompensasi kepada para pekerja tersebut.

"Dari awal ketika pemerintah mendorong WFH ya harus bersiap juga untuk kompensasi kebutuhan mereka," sambungnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2