Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 06 Apr 2020 13:43 WIB

Anies Perpanjang WFH di DKI, Apa Dampaknya ke Ekonomi?

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Semakin mewabahnya virus corona pembuat perusahaan dan PNS di Jakarta bekerja di rumah (WFH). Jakarta pun kini semakin sepi. Foto: Antara Foto
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan memperpanjang waktu bekerja dari rumah atau work from home (WFH) sampai 19 April. Kebijakan ini sebagai bagian dari upaya mencegah penyebaran virus corona.

Apa dampak ke perekonomian?

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menilai, kebijakan tersebut tak pengaruh banyak ke ekonomi. Menurutnya, tanpa WFH pun ekonomi sudah melambat.

"Kalau WFH tidak memberikan banyak pengaruh karena ekonomi sudah melambat, tanpa WFH sudah melambat," katanya kepada detikcom, Senin (6/4/2020).

Dia pun meminta, dalam konteks saat ini terpenting ialah menyelesaikan wabah corona itu sendiri. Dia bilang, WFH merupakan salah satu cara untuk mencegah penyebaran Covid-19.

"Kalau ekonomi sudah pasti melambat, sekarang disuruh kerja di kantor orang nggak mau. Sekarang ini orang harus kita utamakan kesehatan dulu, keselamatan dulu. Jadi WFH diperpanjang 19 April, kemunginan besar diperpanjang lagi," ujarnya.

Sementara, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Tauhid Ahmad menilai, WFH merupakan social distancing yang diperluas. Dia mengatakan, dari segi ekonomi dampak social distancing ini lebih rendah daripada lockdown. Namun, dalam jangka panjang, dampak ekonomi dari social distancing bakal jauh lebih besar.

Sebagai gambaran, lockdown yang diberlakukan 1 bulan akan memangkas 2% produk domestik bruto (PDB/GDP) suatu negara. Namun, setelah itu masalah selesai.

"Hasil studi di banyak tempat yang saya pelajari kalau lockdown secara umum negara OECD itu hampir 2% dari GDP akan hilang dalam 1 bulan, kalau lockdown diberlakukan 1 bulan," ujarnya.

"Kalau kita katakan diberlakukan lockdown nanti secara nasional akan hilang Rp 320 triliun, kita Rp 16.000 triliun PDB, kurang lebih Rp 320 akan hilang ekonomi kita. Kalau model sekarang (social distancing) belum ada kajiannya saya lihat," ujarnya.

Namun begitu, dia menekankan, kemungkinan social distancing akan memberikan kerugian yang lebih besar ke depannya karena tidak adanya kepastian penyelesaian corona.

"Kalau lockdown akan diberlakukan 2 bulan efektif asumsinya beres, kerugiannya hanya 2 bulan. Tapi social distancing waktunya lebih lama daripada lockdown itu yang efek ekonominya lama-kelamaan akan makin besar," tutupnya.



Simak Video "Tips Google Supaya Kerja dari Rumah Selama Pandemi Bisa Efektif!"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/eds)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com