Daging Ayam Terancam Langka, Kok Bisa?

Faizal Amiruddin - detikFinance
Senin, 06 Apr 2020 22:36 WIB
Daging Ayam
Penjual daging ayam/Foto: Trio Hamdani
Pangandaran -

Harga ayam broiler dan pejantan di Pangandaran bahkan di Jawa Barat tak menentu. Di pasar harga tetap normal yakni berada di kisaran Rp 35 sampai 40 ribu per kilogram.

Namun para peternak mengobral dengan harga yang jauh lebih murah. Seekor ayam hidup seberat 8 ons dijual Rp 5 ribu rupiah. Sementara jika sudah disembelih harganya Rp 15 ribu per kilogram.

Ketua gabungan organisasi peternak ayam nasional (Gopan), Herry Dermawan mengatakan kondisi tersebut merupakan dampak dari merosotnya penjualan di tingkat konsumen.

"Pangkal persoalannya dipicu oleh lesunya penjualan di tingkat pedagang daging ayam. Sementara produksi atau pasokan melimpah," kata Herry, Senin (6/4/2020).

Dampak pandemi Corona telah memperburuk rantai ekonomi bisnis ayam pedaging yang memang sudah rentan.

"Pada keadaan normal saja, peternakan ayam pedaging di seluruh Indonesia itu menghasilkan 80 juta ekor/minggu. Sementara kebutuhan pasar atau konsumsi berada di kisaran 60 juta ekor/minggu, jelas surplus cukup besar," kata Herry yang juga anggota DPRD Provinsi Jawa Barat ini.


Pada saat kondisi normal, surplus atau over produksi ayam itu bisa diatasi dengan keberadaan perusahaan besar yang memiliki cold storage. Daging ayam dibekukan untuk dijadikan stok.

"Nah pada kondisi over produksi yang dipicu pandemi Corona saat ini, cold storage penuh, sudah tak bisa menampung. Sementara pasar sepi, jelaslah peternak menjerit karena sulit menjual," kata Herry.

Ia menilai apa yang dilakukan peternak dengan menjual murah langsung ke masyarakat bahkan menjual ayam hidup yang belum siap panen, adalah sesuatu yang wajar.

"Kalau ayam terus di kandang, pengeluaran semakin besar. Sementara ayam tetap harus diberi pakan, pakan mahal, sementara harga jualnya jatuh. Ya lebih baik kosongkan kandang, agar ruginya tak terlalu besar," papar Herry.

Mengenai pedagang di pasar yang tetap menjual dengan harga tinggi, Herry juga mengaku menilainya sebagai hal yang wajar.

"Pedagang daging ayam di pasar itu omzetnya sudah jatuh. Di saat seperti ini, bisa jual 50 kg sehari itu sudah hebat. Mereka butuh untung atau selisih yang lebih besar sebagai kompensasi dari menurunnya omzet," kata Herry.

Namun demikian menurut Herry, ada bahaya yang harus diwaspadai dari situasi ini. "Fenomena ini kan sudah berlangsung dua pekan. Kalau sampai berlangsung selama 2 bulan, maka di bulan ketiga, ayam akan langka dan harga meroket. Dan itu bisa terjadi di masa Lebaran. Nanti masyarakat yang menjerit, di hari raya ayam mahal bahkan sulit didapat," katanya.*

Pemerintah diminta turun tangan untuk mengatasi kemelut dalam rantai usaha ayam pedaging. Klik halaman selanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Ayam Dimasak Campur Brem, Gimana Jadinya?"
[Gambas:Video 20detik]