Mentan Ungkap Daerah yang Defisit Beras hingga Bawang Merah

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 04 Mei 2020 19:20 WIB
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo Kabinet Kerja II
Foto: Muhammad Ridho
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada pada Selasa (28/4) lalu membeberkan ada puluhan provinsi yang mengalami defisit pangan, baik dari komoditas beras, bawang merah, cabai rawit, telur, dan sebagainya.

Hal tersebut pun dipertanyakan oleh Komisi IV DPR RI yang hari ini menggelar rapat kerja dengan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo. Menjawab hal tersebut, menurut Syahrul dalam setiap negara yang besar pasti ada beberapa daerah yang mengalami defisit.

"Kalau demikian, adakah provinsi yang defisit? Dalam negara yang besar ini pasti. Apa saja komoditas itu, pasti ada yang defisit, ada yang sentra produksinya," kata Syahrul dalam rapat kerja virtual, Senin (4/5/2020).

Mengenai 7 provinsi yang defisit beras seperti yang diungkapkan Jokowi dalam rapat terbatas (ratas) pekan lalu, menurut Syahrul saat ini yang defisit hanyalah 4 provinsi karena pihaknya sudah berkoordinasi dengan Perum Bulog untuk memasok beras ke wilayah defisit tersebut.

"Sesuai yang disampaikan Bapak Presiden, ada 7 provinsi yang defisit. Setelah kita intervensi, maka yang tersisa adalah Riau, Kepulauan Riau (Kepri), Bangka Belitung (Babel), dan Maluku Utara," imbuh dia.

Sementara, melihat data Kementan, Kalimantan Utara (Kaltara) dan Maluku juga berstatus kuning (siaga 2) atau defisit 10-25%.

Lalu, ada 23 provinsi yang mengalami defisit bawang merah antara lain: Aceh, Sumatera Utara (Sumut), Riau, Kepri, Jambi, Bengkulu, Babel, Sumsel, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Bali, Kalimantan Barat (Kalbar), Kalimantan Tengah (Kalteng), Kaltara, Sulawesi Barat (Sulbar), Sulawesi Tenggara (Sultra), Sulawesi Utara (Sulut), Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Sedangkan, defisit cabai rawit terjadi di 8 provinsi antara lain DKI Jakarta, Jawa Barat (Jabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalbar, Kalteng, Kalimantan Timur (Kaltim), Kaltara, dan Papua.

Lebih lanjut, defisit cabai merah besar juga terjadi di 7 provinsi antara lain: Sumatera Barat (Sumbar), Jambi, Kalbar, Kalteng, Kaltara, NTT, dan Papua.

Selanjutnya, defisit telur ayam terjadi di 7 provinsi antara lain: Aceh, Kaltara, Gorontalo, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Papua Barat.

Namun, menurut Syahrul, keseluruhan defisit itu bisa diselesaikan dengan melancarkan distribusi pangan dari daerah sentra produksi atau daerah yang surplus.

"Tetapi bagaimana menyikapi? Yang selalu saya kemukakan adalah surplus dalam neraca pangan nasional, kemudian neraca yang kemudian ada daerah defisit, di situlah peranan-peranan kita melakukan distribusi," pungkas dia.

Sebagai informasi, pekan lalu Jokowi mengatakan ada 7 provinsi yang defisit beras, lalu 11 provinsi defisit jagung, 23 provinsi defisit cabai besar, 19 provinsi defisit cabai rawit, 1 provinsi defisit bawang merah, dan 22 provinsi defisit telur ayam. Sementara gula defisit di 30 provinsi, dan bawang putih defisit di 31 provinsi.

Jokowi pun meminta agar dilakukan pendistribusian yang baik. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan pokok dari daerah yang surplus ke daerah yang defisit.

"Oleh sebab itu transportasi distribusi pangan antar provinsi, antar wilayah, antar pulau tidak boleh terganggu," tegasnya saat membuka rapat terbatas secara virtual, Selasa (28/4/2020).



Simak Video "Kementan RI Yakin Petani Indonesia Bisa Hadapi New Normal"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)