Inflasi Rendah, Bukti Daya Beli Lesu?

Hendra Kusuma - detikFinance
Selasa, 05 Mei 2020 06:59 WIB
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengatakan perkembangan harga pangan di pekan pertama Ramadhan masih stabil.
Foto: Ari Saputra

Penyebab utama inflasi di April tahun ini adalah kenaikan harga emas dan perhiasan, bawang merah, dan gula pasir. Suhariyanto bilang mengatakan dari 11 kelompok pengeluaran inflasi tertinggi terjadi di perawatan pribadi dan jasa lainnya yakni sebesar 1,20% dengan andil 0,06%.

Dia bilang dari 11 kelompok pengeluaran ini hanya dua kelompok yang mengalami deflasi yaitu transportasi, dengan kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan. Angka deflasinya masing-masing 0,42% dan 0,34%.

Sedangkan sembilan kelompok sisanya mengalami inflasi, seperti kelompok makanan, minuman, dan tembakau terjadi inflasi 0,09% dengan andil 0,02%. Komoditas yang berdampak besar adalah kenaikan harga bawang merah, gula pasir, minyak goreng, rokok kretek filter, dan rokok filter putih.

Masih di sektor ini, terdapat juga yang menyebabkan deflasi yaitu cabai merai, daging ayam ras, serta bawang putih yang harganya sudah menurun.

"Jadi untuk kelompok makanan, minuman, dan tembakau, inflasi rendah 0,09% dan andil 0,02% dengan pergerakan barang yang sudah saya sampaikan," jelasnya.


Sedangkan kelompok pengeluaran lainnya seperti pakaian dan alas kaki tidak memberikan sumbangan ke inflasi dan deflasi alias stabil. Kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga mengalami inflasi 0,09% dengan andil 0,02%.

Selanjutnya kelompok rekreasi, komunikasi, dan budaya, lalu kelompok pendidikan terjadi inflasi, namun tidak memberikan andil kepada inflasi. Sedangkan kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran terjadi inflasi 0,18% dengan andil 0,02%.


Halaman


Simak Video "Imbas Hiperinflasi, Warga Venezuela Beli BBM Pakai Rokok"
[Gambas:Video 20detik]

(hek/ang)