Kementan Yakin Cetak Sawah Baru Ampuh Tangkal Krisis Pangan

Vadhia Lidyana - detikFinance
Jumat, 08 Mei 2020 18:13 WIB
Foto aerial sejumlah petani menanam padi di areal persahawan Desa Pesarean, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (10/1/2020). Kementerian Pertanian menargetkan cetak sawah baru naik dari 6.000 hektar pada 2019 menjadi 10.000 hektare pada 2020 dengan mengalokasikan anggaran sebesar Rp200 miliar untuk merealisasikan cetak sawah.  ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah/ama.
Foto: ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menginstruksikan sejumlah kementerian dalam Kabinet Indonesia Maju untuk membuka lahan persawahan baru di Kalimantan Tengah (Kalteng) dan Sumatera Selatan (Sumsel) sebagai upaya mengantisipasi krisis pangan karena kekeringan. Targetnya 900.000 hektare (Ha) lahan persawahan baru yang memanfaatkan lahan gambut.

Sejumlah pengamat dan akademisi pertanian menilai langkah Jokowi ini tidak tepat untuk menjawab prediksi krisis pangan dari Food Agriculture Organization (FAO). Bahkan, Ketua Dewan Penasihat Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia (Perhepi) Bayu Krisnamurthi yang pernah menjabat sebagai Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) periode 2010-2011 menilai rencana itu punya risiko kerusakan ekologis yang besar.

Menjawab semua kritik tersebut, Direktur Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Kementerian Pertanian (Kementan) Sarwo Edhy meyakini rencana ini sangat efektif. Sarwo menuturkan, pemanfaatan lahan rawa gambut ini bisa jadi masa depan pertanian Indonesia.

"Ya sangat efektif karena kalau kering itu lahan yang bisa ditanami adalah di rawa. Kan kalau musim kering berarti di rawa surut, itulah potensi masa depan bangsa Indonesia sebetulnya di rawa," kata Sarwo kepada detikcom, Jumat (8/5/2020).

Ia menjelaskan, ketika musim hujan Indonesia bisa mengandalkan sawah reguler. Namun, ketika musim kemarau maka lahan rawa gambut adalah jawabannya.

"Ketika musim hujan di sawah reguler itu yang kita andalkan, ketika musim kemarau sasaran kita di rawa, dan biasanya hasilnya bagus," tutur Sarwo.

Selain itu, dengan kemajuan teknologi pertanian saat ini, ia yakin lahan rawa gambut itu bisa segera dioptimalisasi sebagai sawah padi.

"Kalau sekarang kan sudah dengan pola mekanisasi. Jadi sudah mengubah pola petani tradisional ke modern. Sekarang ada traktor amfibi untuk di rawa. Kalau dulu 1 Ha mungkin dilakukan oleh 15 orang selama 5-6 hari. Ini bandingannya, kalau mencangkul manual. Tapi kalau dengan alsintan, traktor amfibi yang khusus di rawa, itu paling 1 Ha 2 jam selesai. Supirnya kan 1, ya 1-2 cukup," terangnya.

Menurut Sarwo, saat ini pemerintah masih terus membahas teknis pelaksanaannya lebih lanjut. Namun, ia mengatakan targetnya di bulan Mei ini lahan rawa gambut tersebut bisa mulai dikerjakan untuk jadi sawah baru.

"Optimalisasi ya diupayakan di bulan Mei ini, tapi ini masih rapat-rapat," pungkasnya.



Simak Video "Pandemi Corona Memicu Krisis Pangan Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)