Pedagang Pasar Minta Mendag Tak Cuma Pasok Gula ke Ritel Modern

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 11 Mei 2020 14:41 WIB
Warga Bondowoso lapor polisi karena menjadi korban penipuan hingga Rp 1,6 miliar. Penipuan tersebut dilakukan oleh sepasang suami istri.
Foto: Chuk Shatu Widarsha
Jakarta -

Stok gula yang langka menyebabkan harga terus melonjak, terutama di pasar tradisional. Menurut pusat informasi harga pangan strategis (PIHPS), harga gula rata-rata nasional masih tembus Rp 17.700/kg, dan di DKI Jakarta Rp 18.900/kg.

Padahal, pemerintah sudah menetap berbagai upaya untuk memenuhi stok gula, salah satunya impor sampai 988.000 ton, pengalihan gula rafinasi jadi konsumsi, dan baru-baru ini impor gula kristal putih (GKP) untuk BUMN. Lantas, ke mana gula-gula tersebut dipasok jika di pasar tradisional stoknya masih langka?

Menjawab hal tersebut, Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) Abdullah Mansuri menilai ada mekanisme distribusi yang diubah oleh Menteri Perdagangan (Mendag) Agus Suparmanto.

"Menurut Mendag distribusi sudah dilakukan, di pasar tradisional sudah dilakukan. Tapi kenapa harganya masih tinggi? Dan barangnya juga susah. Bukan barangnya ada, barangnya itu nggak begitu banyak," jelas Abdullah kepada detikcom, Senin (11/5/2020).

Abdullah juga menyinggung pernyataan Mendag pada akhir April 2020 lalu yakni ingin memangkas rantai distribusi gula.

"Proses distribusinya ini kan mereka beranggapan akan dipangkas rantai distribusinya. Nah saya nggak tahu dipangkas itu ada di mana? Atau jangan-jangan dibelokkan itu dalam pemangkasan itu, kita kan nggak tahu. Mendag dan Dirjen Perdagangan Dalam Negeri menyatakan akan memangkas distribusi," imbuh dia.

Abdullah pun meminta Agus tak mengubah proses distribusi. Sebab, menurutnya rantai distribusi yang sudah ada sebelumnya tak bermasalah. Ia mengatakan, yang harus diutamakan Agus yakni memastikan stok turun ke pasar tradisional.

"Kenapa dulu aman-aman saja? Karena lebih mendahulukan pasar tradisional dibandingkan ritel modern. Dulu ya sebelum Mendag yang sekarang, Mendag periode lalu. Proses distribusinya berjalan baik-baik saja. Tidak ada kendala," tegas Abdullah.

Menurutnya, hal inilah yang menyebabkan lonjakan harga gula yang begitu jauh dari harga acuan yakni Rp 12.500/kg, dan baru terjadi di tahun ini. Sementara, dibandingkan tahun 2019 lalu harga tertinggi hanyalah Rp 15.000/kg rata-rata nasional.

"Tertinggi itu Rp 15.000/kg di nasional. Dan itu langsung turun lagi, tidak perlu lama waktunya," pungkasnya.



Simak Video "Jokowi Curiga Ada Permainan Harga Bawang Merah dan Gula Pasir!"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)