Kisah Sedih Ritel di AS: Tutup Gara-gara Corona, Kini Malah Dijarah

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Selasa, 02 Jun 2020 07:32 WIB
A man holds a U.S. flag upside down, a sign of distress, as protesters march down the street during a solidarity rally for George Floyd, Sunday, May 31, 2020, in the Brooklyn borough of New York. Protests were held throughout the city over the death of Floyd, a black man in police custody in Minneapolis who died after being restrained by police officers on Memorial Day. (AP Photo/Wong Maye-E)
Ilustrasi/Foto: AP Photo/Wong Maye-E
Jakarta -

Sejumlah toko ritel di Amerika Serikat (AS) telah memutuskan untuk menutup outlet hingga waktu yang tidak ditentukan. Hal ini karena ada potensi penjarahan yang terjadi di sela unjuk rasa.

Padahal toko-toko tersebut masih babak belur akibat tekanan pandemi COVID-19 yang terjadi beberapa waktu terakhir. Mengutip Reuters, Target Corporation dan Walmart saat ini sedang menghadapi tekanan berat dari pandemi dan protes sampai penjarahan yang dilakukan di berbagai kota di Amerika Serikat (AS).

Awalnya protes tersebut berjalan kondusif, namun berubah menjadi anarkis akibat meninggalnya seorang pria kulit hitam di Minneapolis, George Floyd. Di Los Angeles unjuk rasa tersebut berbuntut penjarahan di toko pakaian Alexander McQueen dan Gucci. Toko-toko tersebut juga dituliskan kalimat "Eat the rich".

Sementara itu di beberapa toko Grove Shopping Centre yang tak jauh dari tempat tersebut dibobol oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Toko Nordstorm, Ray Ban sampai Apple jadi korban.

Dalam keterangan resminya, Apple Inc menyatakan menutup sejumlah toko di AS pada Minggu. Namun Apple tidak merinci berapa banyak toko yang ditutup. Apple juga akan membatasi jam operasional di lebih dari 200 toko.

Walmart juga menutup beberapa toko di Minneapolis dan Atlanta setelah protes yang dilakukan pada Jumat. Kemudian menutup ratusan toko pada pukul 5 sore. Juru bicara Walmart menyampaikan manajemen terus memantau perkembangan protes ini untuk operasional ke depannya.

Amazon juga terus memantau situasi dengan ketat. Di beberapa kota, Amazon bahkan telah mengurangi operasional pengiriman untuk menjaga keamanan para pegawainya.

Penjualan ritel di AS mencatatkan penurunan yang signifikan akibat pandemi COVID-19 yang membuat banyak orang harus berada di rumah dan menyebabkan kontraksi perekonomian terbesar sejak 1930-an.

Selanjutnya
Halaman
1 2


Simak Video "Detik-detik Toko di AS Dijarah dan Dirusak"
[Gambas:Video 20detik]